Herzlich Wilkommen

Image
PENDAFTARAN KELAS GRATIS DEUTSCHE FREUNDE "TELAH DITUTUP" Pendaftaran ditutup karena telah memenuhi kuota peserta. Terima kasih! ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Kelas gratis Deutsche Freunde adalah kelas belajar yang diselenggarakan secara gratis oleh tiga orang mentor kelas, yaitu Linggom Marpaung, Dandi Manurung, dan Tiarma Siallagan. Kelas ini diperuntukkan bagi pembelajar bahasa Jerman pada tingkat pemula sampai tingkat A2. Kelas akan dibagi tiga dengan masing-masing satu mentor. Kelas ini diadakan selama 2 minggu, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu, dimana per pertemuan dilaksanakan selama 2 jam.  Pendaftaran dibuka pada tanggal 08 Oktober 2020 sampai 10 Oktober 2020. Apa yang didapatkan lewat kelas Deutsche Freunde? Peserta ak...

KEHILANGAN PERMATA PEDALAMAN

 


(Oleh Astina Hotnauli Marpaung)

 

 

 “Mereka bangga pada rekening siluman. Dasar koruptor bajingan!”

“Apa yang membuatmu marah?”, wanita berkacamata itu menghimpun keberanian, bertanya penuh hati-hati.

“Mereka menjijikkan, menutup nurani  dari jutaan anak di pelosok negeri  yang menjerit, tangan yang menengadah, bibir yang bergeming, hati yang tercabik dan tertindas oleh kebodohan”. Sukma menyandarkan kepalanya pada pohon, perlahan menutup mata, lalu menggali semua amarah di kepala.

“Lalu?”

“Lalu mereka dengan lantang berbicara di layar kaca, dengan atau tanpa media mengabarkan, bahwa mereka mengupayakan pemerataan pendidikan, kesejahteraan guru dan berlaksa program yang terlihat menjanjikan. Faktanya, mereka tidak pernah memakai anggaran untuk turun ke lapangan.”

Wanita berkacamata itu menepuk lembut bahu Sukma, “Kamu bekerja di sekitar mereka?”

“Benar. Mataku melihat gedung mewah bediri tanpa seorang guru yang bisa hadir setiap hari. Telingaku mendengar seorang pemimpin yang bangga menyalahgunakan dana operasional sekolah. Hatiku tersayat melihat ratusan anak yang buta aksara. Tetapi….”

Sukma memalingkan wajah, menatap langit sembari menahan air mata.

“Tetapi apa?”

“Tetapi sendiriku tak berdaya. Aku tak kuasa mengajar beberapa kelas sendirian. Suaraku disana tidak berpengaruh. Aku orang asing di provinsi kelahiranku. Aku takut.”

“Kamu takut ditolak?”

Sukma mengangguk pelan. Dia kecurian kata.

“Itu artinya tugasmu bertambah satu, yaitu mencintai”, tukas wanita berkacamata itu dengan mata berbinar.

“Aku tak ingin gegabah menyebut ini cinta, tetapi setiap hari ada rindu yang berkecamuk untuk segera mengajari para permata pedalaman itu. Harus kusebut apa rasa ini? Benci dan iba berpacu, beradu kelewat liar.”

“Cinta sudah membawamu sejauh ini, maka bertahanlah. Cinta mengajarkanmu untuk membenci hal-hal yang tidak baik seperti korupsi, makan gaji buta dan manipulasi data. Cinta melatihmu memeluk para buta aksara dengan penuh sabar dan sayang yang tiada berkesudahan. Selalu ada yang membenci seorang yang jujur dalam bekerja, mereka ingin melihatmu gagal dan mundur perlahan. Silahkan kecewakan mereka  dengan terus berkarya bagi pendidikan Indonesia”, balas wanita berkacamata itu sembari melempar senyum.

Sukma terdiam. Dia menghela nafas, menghembuskan perlahan, kemudian mengulanginya beberapa kali. Wanita berkacamata itu berusaha memahami keadaan, bahwa Sukma sedang merenung panjang.

“Seandainya saja”, Sukma memecah keheningan.

“Seandainya apa?”

“ Seandainya dari Dinas Pendidikan ada kunjungan wilayah, memeriksa kesesuaian data dan fakta, mengevaluasi kinerja pegawai, dan tanpa aba-aba datang kapan saja lalu memecat siapa saja yang lalai dalam tugasnya. Mungkin tidak akan ada gedung mewah dihuni para anak buta aksara dan tidak punya cita-cita.”

Wanita berkacamata itu menarik tangan Sukma, mengepalnya, sejurus kemudian berkata, “Indonesia butuh  sarjana pendidikan yang memiliki banyak cinta seperti kamu.”

“Huhhhh. Jika berandai terus-menerus tidak akan ada habisnya. Pendidikan Indonesiaku yang malang, para terdidik yang menyemat gelar S.Pd dan M.Pd malah menganggap Undang-Undang  tentang sistem pendidikan nasional tidak lebih berharga dari kata-kata diplomatis sosial media mereka Tiap tahun, pemerintah membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil, dan tiap tahun pula mereka yang rekeningnya bengkak bisa dengan mudah mengurus pindah, tak peduli bagaimana nasib pendidikan di desa yang dipilihnya ketika melamar. Egois dan tidak nasionalis, demi dipandang sejahtera karena seorang abdi negara.”

Alis kiri Sukma naik, dia mengernyitkan dahi  dan senyum sinis.

“Kamu kecewa pada pada PNS yang tidak berintegritas itu?”

“Juga pada diriku sendiri. Kecewa, mengapa aku tidak bisa lulus ujian CPNS waktu itu. Aku ingin ambil bagian memperbaiki sistem pendidikan di daerah ini, dan salah satunya jalan untuk bisa memperbaiki adalah aku harus ada di dalam instansi pemerintahan. Aku ingin jadi PNS yang berintegritas.”

“Kamu mencintai anak-anak ini, bukan? Kamu menikmati hidup di pedalaman?”

“Sangat.”

“Boleh aku memberimu sedikit tanggapan dan saran?”

“Aku membutuhkannya.”

“Ibu Sukma! Terima kasih sudah berjuang untuk pendidikan di pedalaman.  Hari ini atau besok, mungkin namamu akan dilupakan. Kamu hidup dengan segala keterbatasan di tengah hutan, jauh dari keluarga, listrik terbatas, jaringan internet tidak ada, setiap hari mengharapkan hujan turun untuk dimasak agar kamu bisa minum, mandi dan keperluan lain ke sungai, makan seadanya, itu semua tidak mudah. Bahkan aku belum tentu bisa. Saat ini mungkin kamu sedang jenuh karena setiap hari menabung rindu pada keluarga yang jauh, dilema karena umur yang semakin tua tetapi jaminan karir tidak pasti. Bahkan mungkin pernah bertanya dalam benakmu, semua ini kamu lakukan untuk siapa? Guru PNS memanglah sejahtera, dan kamu sudah berusaha, tetapi Tuhan belum mempercayakan. Bukan karena kamu kurang iman atau tidak layak, tetapi percayalah bahwa promosi itu datang dari Tuhan. Aku percaya, sesuatu yang besar, entah itu karir ataupun cinta, sesuatu itu sudah Tuhan persiapkan untukmu karena kamu sudah naik level. Hidup bukan tentang pencapaian, tetapi perjalanan. Aku bangga padamu, aku terinspirasi oleh perjalananmu sebagai pendidik. Tidak semua sarjana memakai ijazahnya untuk Indonesia yang lebih berarti. Semangat, Sukma!”

Sukma menangis.

Sukma, seorang guru pedalaman yang setiap hari berjuang memberantas buta huruf di pelosok negeri, sedang berada dalam titik jenuh, menyalahkan banyak hal, menginginkan banyak hal. Tetapi melalui temannya, wanita berkacamata, semangat Sukma kembali terpompa. Dia bertahan di pedalaman, berjuang, meski tidak dapat dukungan dari sejawat, agar lentera pendidikan pelosok tetap bersinar.

“Ada lagi yang ingin kamu ceritakan?”, wanita berkacamata itu menatap wajah Sukma yang sedari tadi menteskan air mata.

“Indonesia telah kehilangan. Indonesia kehilangan para sarjana pendidikan yang memiliki hati untuk mengabdi, Indonesia kehilangan abdi negara yang mencinta negeri, Indonesia kehilangan guru yang marah dengan jujur. Anak-anak menjadi korban, bahkan sampai ada yang membenci pendidikan. Anak-anak tidak mempunyai cita-cita selain menjadi buruh atau petani biasa, dijajah oleh kebodohan yang disengaja oleh para sarjana terdidik.”

Wanita berkacamata itu menimpali, “Kehilangan memang selalu menyakitkan. Pendidikan di pelosok Indonesia sedang menangis menjerit. Indonesia tidak akan larut dalam kesedihan kehilangan ini, karena kamu hadir menghibur lara Indonesia.”

Sukma mengamini.

“Sekarang aku tahu bahwa kehilangan itulah yang membuatku marah.”

 

Tentang penulis:

Astina Hotnauli Marpaung, seorang guru pedalaman di Nias Selatan. Lahir di Demak Bayu, 14 April 1994, lulusan S1 Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Riau.

 

Diedit oleh: Linggom Sahat Martua Marpaung

Comments