Herzlich Wilkommen

PENDAFTARAN KELAS GRATIS DEUTSCHE FREUNDE "TELAH DITUTUP"

Pendaftaran ditutup karena telah memenuhi kuota peserta. Terima kasih!

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kelas gratis Deutsche Freunde adalah kelas belajar yang diselenggarakan secara gratis oleh tiga orang mentor kelas, yaitu Linggom Marpaung, Dandi Manurung, dan Tiarma Siallagan. Kelas ini diperuntukkan bagi pembelajar bahasa Jerman pada tingkat pemula sampai tingkat A2. Kelas akan dibagi tiga dengan masing-masing satu mentor. Kelas ini diadakan selama 2 minggu, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu, dimana per pertemuan dilaksanakan selama 2 jam. 

Pendaftaran dibuka pada tanggal 08 Oktober 2020 sampai 10 Oktober 2020.

Apa yang didapatkan lewat kelas Deutsche Freunde?
Peserta akan mendapat ilmu mengenai dasar-dasar bahasa Jerman, keberlangsungan kelas lewat aplikasi Zoom, relasi antar peserta, dan materi dalam format pdf, serta video penjelasan dari youtube.

Apakah boleh menanyakan materi di luar jam pertemuan lewat grup WA?
Jawabannya sangat boleh. Peserta berhak menanyakan materi yang kurang dipahaminya selama kelas berlangsung.

Bagaimana cara mendaftar sebagai peserta?
Calon peserta diwajibkan untuk memenuhi syarat berikut:
1. Merupakan setidaknya siswa SMA dan umum.

Bukti subscribe discreenshot lalu akan dikirimkan melalui Google Form yang dapat diakses di bawah ini.

Silahkan isi formulir pendaftaran di bawah ini:
Formulir pendaftaran
Setelah mengisi formulir, silahkan klik link WA yang tersedia untuk bergabung dengan grup peserta.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Komparation mit wie und als

Wie

Wenn zwei oder mehr Personen oder Sachen in einem Vergleich gleich sind, verwendet man den Positiv und die Vergleichswörter „so wie“, die man mit genau betonen kann.

Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro) und den USA (860 Euro)

1.      Das Leben in Deutschland ist so teuer wie in den USA.

2.      Peter studiert Spanisch genauso lang wie Alexander.

3.      Die Leute in Deutschland ist so freundlich wie in Italien.

4.      Herr Antrim ist so lang in Polen wie in Kanada.

5.      Frau Schmidt fühlt sich so gut in Hamburg wie in Berlin.

Als

Der Komparativ wird mit dem Vergleichswort als benutzt.

Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro), Kanada (700 Euro), Frankreich (918 Euro)

1.      Das Leben in Kanada ist teurer als in Deutschland.

2.      Das Leben in Frankreich ist teurer als in Kanada.

3.      Tom studiert in Deutschland länger als Martin.

4.      Martin Studiert Deutschland länger als Peter.

5.      Tobias lebt Deutschland länger als ich.


Superlativ

Superlativ ist die höchste Steigerungsform von Wortart. Superlativ vergleicht ein Ding mit mehreren Dingen und bildet  die höchste Stufe.

Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro), Kanada (700 Euro), Frankreich (918 Euro)

1.      Das Leben in Kanada ist teurer als in Deutschland, aber in Frankreich ist am teuersten.

2.      Die Wohnungsmiete in Kanada ist höher als in Deutschland, aber in Frankreich ist am höchsten.

3.      Johan geht ins Museum öfter als ins Theater, aber in die Oper ist am öftesten.

4.      Bella lernt Deutsch mehr als Spanisch, aber sie lernt am meisten Polnisch.

5.      Matthias studiert länger in Dortmund als in Frankfurt, aber er studiert am längsten in Berlin.


Nebensatz mit weil

Ein Hauptsatz muss mindestens aus einem Subjekt und einem konjugierten Verb bestehen. Inhaltlich und grammatisch ist er vollständig und kann deshalb alleine stehen. Ein Nebensatz kann normalerweise nicht allein stehen. Er hängt von einem übergeordneten Hauptsatz oder einem Nebensatz ab. Dazwischen steht ein Komma. Das konjugierte Verb steht in einem Nebensatz meistens ganz am Ende. Der Nebensatz wird durch bestimmte einleitende Wörter mit dem übergeordneten Satz verbunden. Eines von einleitenden Wörtern ist die Konjunktion weil. Ein mit „weil“ beginnter Nebensatz  antwortet auf die Frage „Warum?“. Mit den Fragewörtern „warumwieso oder weshalb“ fragt man nach einem Grund.

Beispiele von weil-Sätzen:

-          mit Vollverben:

Konjugiertes Verb steht am Ende des Nebensatzes.

1.      Petra macht eine Ausbildung zur Verkäuferin, weil sie gerne mit Menschen arbeitet.

2.      Oky lernt Deutsch, weil er in Deutschland studieren möchte.

3.      Viele Chinesen lernen English, weil es für Arbeit wichtig ist.

4.      Spanisch sprechen sie, weil sie schon lange in Spanien gelebt haben.

5.      Herr Marpaung hat Germanistik studiert, weil er sich sehr für deutsche Literatur und Geschichte interessiert.

-          mit Modalverben:

Konjugiertes Modalverb steht am Ende hinter dem Infinitiv.

1.      Matthias fliegt nächste Woche nach Deutschland, weil er noch sein Studium beschliessen muss.

2.      Lena lebt in Deutschland, weil sie da eine Journalistin werden will.

3.      Tobias ist nach Italien geflogen, weil er noch sein Italienisch verbessern muss.

4.      Danu und ich brauchen zwei Fremdsprachen im Studium, weil wir gute Note erhalten mögen.

5.      Sonia ist eine Studentin in Deutschland, weil sie ihr Deutschkenntnis direkt lernen mag.


Oleh: Astina Hotnauli Marpaung, S.Pd.

Seorang Guru Pedalaman di Yayasan Tangan Pengharapan.


Seorang staf pendidikan YTP pernah menantang saya demikian "mengapa harus Papua kak Tin? Bukankah semua anak sama berharganya di mata kakak?" Kalimat tersebut menampar sekaligus menguatkan saya yang sebelumnya harusnya ditempatkan di FLC Goni, Nabire, Papua. Ingin rasanya  saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Pemkab Nabire yang telah melakukan lockdown dalam upaya mencegah penularan covid 19, sehingga saya batal ke Papua yang sedari dulu saya mimpikan dan kemudian kalimat semua anak sama berharganya membawa saya ke FLC Tunis, TTS, NTT. Sebuah center baru, tantangan baru bagi saya karena untuk pertama kalinya berdiri PAUD di desa ini sekaligus untuk pertama kalinya saya mengajar maupun merintis PAUD. 

September 2020, musim kering di TTS. Tak mengapa tanahnya kering, yang penting SDM nya semakin tumbuh subur, minimal selama setahun saya disini, mereka tidak lagi menjual buah Pisang dari kebun untuk membeli goreng Pisang, itu awalnya pola pikir yang sangat ingin saya ubah melalui pendidikan.  Ini bulan pertama saya mengajar disini. Kelas krik-krik baru saja dimulai. Tiap malam saya berlatih di depan kaca, belajar senyum lebar, bagaimana caranya ekspresif dan menyenangkan di depan anak-anak PAUD dan tiap pagi pula saya seperti berbicara maupun tertawa sendiri di hadapan anak-anak karena tidak ada timbal balik. Mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan, saya terlebih lagi tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mirip-mirip bahasa Arab kedengarannya. Sebuah speaker murahan yang dipesan online ketika di Jakarta akhirnya menempatkan posisinya untuk mencuri hati anak-anak. Saya si badan kaku ini mulai berani mempermalukan diri sendiri di hadapan anak-anak dan orang tua untuk berjoget diiringi musik untuk anak-anak. Seminggu mengajar belum membuahkan hasil, saya masih berjoget sendiri, berbicara sendiri, tepuk tangan sendiri, berdoa sendiri, mengucapkan selamat pagi lalu menjawabnya kembali sendiri, bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Keterbatasan fasilitas dan media pembelajaran membuat saya berpikir keras setiap hari besoknya harus mengajar apa dan bagaimana supaya anak-anak cepat menangkap. Ibarat bola menggelinding, ide-ide, mimpi-mimpi dan metode mengajar bergulir di benak, bertambah banyak dan konsep pun terbentuk, tinggal eksekusi. Pohon kering yang sudah mati jadi media belajar, tiba-tiba saya jadi pelukis yang handal, tiba-tiba jadi pencipta lagu sekaligus penyanyi yang percaya dirinya luar biasa melebihi idol, tiba-tiba menjadi dancer, tiba-tiba menjadi bidan padahal dari dulu sangat takut dengan darah, tiba-tiba jadi sosok yang tidak jijik lagi dengan kotoran di hidung dan seluruh badan anak.

Sejak merintis PAUD disini, partner saya pun heran melihat saya ternyata memiliki banyak talenta yang selama ini tidak pernah ia lihat di Nias ketika kami berpartner. Jangankan dia, saya pun heran melihat diri saya sendiri bisa menggambar, mendesain dan melukis. Yang pasti adalah, merintis ini memulai dari nol, masih bibit, belum tahu apakah semua bibit ini akan tumbuh dan berbuah sehingga menghasilkan panen yang baik atau hanya beberapa bibit saja yang berhasil? Guru yang baik adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar, guru yang memandang dirinya berharga kemudian bisa memandang bahwa semua anak itu berharga. Guru yang baik tahu bagaimana ia menanam, menyiram meski bukan ia yang nantinya memanen.

3 minggu sudah menjadi guru PAUD di FLC Tunis, niat yang baik telah teruji, saya sudah melihat tunas. Tunas-tunas bangsa. Setiap hari saya mengajar di hadapan calon menteri, calon bupati, calon gubernur, calon anggota dewan, calon polisi, calon dokter dan lain sebagainya. Jujur, saya grogi berdiri di hadapan orang-orang hebat ini. Akhirnya, bibit itu bertunas. Anak-anak sudah pandai senam, cerewet menyapa guru, mampu memegang pensil dengan benar, mampu mengulang kata yang diucapkan oleh guru, tidak lagi menangis harus ada mama di samping baru mau belajar, tidak lagi harus disogok jajan oleh mama baru mau sekolah dan yang penting adalah perlahan bisa berbahasa Indonesia. 

Saya Astina, selama ini saya menghindar jadi guru PAUD, ketakutan besar di dalam diri saya selalu berkata TIDAK BISA. Tetapi hari ini, sampai tulisan ini selesai, anak-anak yang sangat berharga dan saya kasihi ini seolah berkata, tunas ini akan berbuah manis dan dinikmati banyak orang. Sepotong es krim, apresiasi untuk diri saya yang mengalahkan ketakutan dan mau belajar menjadi bisa. NTT, how wonderfull it is.




St. Pius X allowed for Russian Greek Catholics to keep the saints on their calendar (presumably included saints after the Council of Florence) when they converted and Ven. Pius XII [specifically] approved 21 "Orthodox" saints for veneration and St. Paul VI added 4 more and in total added 25 "Orthodox" saints to the 1969 calendar revision

Source for those wondering: 

 Fr. Alphonse Raes, SJ's "La première édition romaine de la liturgie de S. Jean Chrysostome en staroslave," Orientalia christiana periodica 7 (1941): 518-526.

This article states (p. 518) that, in a 12/21/1934 motu proprio, Pope Pius XI commissioned the Sacred Congregation for the Oriental Church to publish liturgical books for Russian Catholics (AAS 1935:66). On the same page, Fr. Raes says that the first Roman edition of the Russian Greek Catholic Divine Liturgy of St. John Chrysostom was published in published in "Rome, Typographie de Grottaferrata 1940. In-8º, 112 pages." That is the only relevant Acta Apostolicæ Sedis citation in the whole article.

The liturgical calendar for Russian Greek Catholics omitted Peter of Moscow (1308-1326) and Alexis of Moscow (1354-1378) because they were consciously dependent on the Ecumenical Patriarch of Constantinople when he was clearly in schism from Rome (art. cit., p. 521). It also omitted Jonah of Moscow (1448-1461) and Philip of Moscow (1566-1568) because they rejected the Ecumenical Council of Florence (p. 521).

Why did the Liturgy include Nicetas of Novgorod (†1108), Leontius of Rostov (†1077), Barlaam of Khutyn (†1192), and Sergius of Radonezh (†1392)? Fr. Raes theorizes that they did not express schismatic sentiments (i.e., exhibited no pronounced anti-Catholic prejudices) and in their state of eremitic wilderness life, were probably never posed the question "for or against Rome?" (p. 521).

Some post-1054 saints common to Orthodox and Catholic calendars were, in fact, in communion with the Apostolic See, such as many 11th- and 12th-century holy monks from Kiev, according to Yves Cardinal Congar, OP in his, "A propos des saints canonisés dans les Eglises orthodoxes," Revue des sciences religieuses, 22 (1948), p. 246.

The following excerpt from the Roman Martyrology would verify the fact that Rome performed very thorough investigations into these post-schism individuals before determining whether they were to be called saints of the universal church.

"In monasterio Sanctissimae Trinitatis in Mosquensi Russiae regione, sancti Sergii de Radonez, qui, primum in silvis asperis eremita, dein vitam coenobiticam coluit et hegumenus electus propagavit, vir mitis, consiliarius principum et consolator fidelium" (Martyrologium Romanum, page 536).

"In the monastery of the Most Holy Trinity in the region of Moscow of Russia, of the holy Sergius of Radonezh, who was first a hermit in savage woods,..."

Pope Pius XII permitted 21 saints for veneration and they are from among the following 25 post-schism saints who appear in the General Roman Calendar of 1969:

1. St. Sava of Serbia (January 14) [1174-1237]
2. St. Nicetas of Novgorod (January 31) [†1108]
3. St. John the Martyr of Vilnius (April 14) [†1342]
4. St. Anthony the Martyr of Vilnius (April 14) [†1342]
5. St. Eustace the Martyr of Vilnius (April 14) [†1342]
6. St. Stephen the Enlightener of Perm (April 26) [1340-1396]
7. St. Stephen Pechersky (April 27) [†1094]
8. St. Cyril of Turov (April 28) [1130-1182]
9. St. Ignatius of Rostov (April 28) [†1288]
10. St. Isaiah the Wonderworker of Rostov (May 15) [†1090]
11. St. Euphrosyne of Polotsk (May 23) [†1173]
12. St. Leontius of Rostov (May 23) [†1077]
13. St. Nicetas the Wonderworker of Pereaslavl (May 24) [†1186]
14. St. German of Valaam (June 28) [†1353?]
15. St. Sergius of Valaam (June 28) [†1353?]
16. St. Anthony of the Kiev Caves (July 10) [983-1073]
17. St. Theodosius of the Kiev Caves (July 10) [†1074]
18. St. Theodore the Black of Yaroslavl (September 19) [†1299]
19. St. David of Yaroslavl (September 19) [†1299]
20. St. Constantine of Yaroslavl (September 19) [†1299]
21. St. Michael the Martyr, Wonderworker of Chernigov (September 21) [†1246]
22. St. Theodore the Martyr, Wonderworker of Chernigov (September 21) [†1246]
23. St. Sergius the Wonderworker of Radonezh (September 25) [1314-1392]
24. St. Abraham the Wonderworker of Rostov (October 29) [†1073]
25. St. Barlaam of Khutyn (November 6) [†1193]

Credit: Kyrylo Miazga



Belajar secara pasif berarti meningkatkan keterampilan bahasa Anda, tetapi tidak harus duduk di depan meja Anda.  Anda dapat mengenal orang baru, menemukan motivasi lagi, dan membuat kemajuan lebih cepat.


 Tapi apa yang dimaksud dengan pembelajaran aktif dan pasif?


Pembelajaran aktif berarti Anda terlibat penuh.  Jadi Anda sangat terkonsentrasi dan melakukan tugas secara sadar.


Sebaliknya, belajar secara pasif berarti membiarkan sesuatu terjadi pada Anda.  Meskipun Anda merasakan sesuatu - bisa dikatakan, biarkan itu bekerja pada Anda - Anda memiliki tugas lain yang terutama Anda lakukan.


Jika Anda belajar secara pasif, Anda akan belajar lebih banyak "di samping".


Tapi bukan berarti hanya butuh setengahnya.  Sebaliknya: jika Anda belajar banyak secara pasif, Anda akan meningkatkan keterampilan bahasa Anda lebih cepat karena Anda terutama merasakan bahasanya.


 Cara Belajar Secara Pasif


 # 1 Dengarkan musik atau teks!


 Buku musik atau audio kebanyakan dimainkan di samping.  Anda dapat membersihkan apartemen atau menyiapkan makan malam pada saat bersamaan, tetapi Anda juga dapat mengelilingi diri Anda dengan belajar bahasa Anda di dalam mobil, sambil berolahraga atau bersantai di bak mandi.  Meskipun Anda terutama melakukan tugas yang berbeda, Anda mengambil kata-kata individual yang membantu Anda memahami bahasanya.  Anda juga akan meningkatkan pelafalan karena Anda akan selalu mendengar kata-katanya dengan benar.


 Tentunya Anda juga bisa aktif mendengarkan musik atau lirik.  Untuk melakukan ini, Anda cukup membaca bersama dengan apa yang Anda dengar.  Jadi Anda bisa melihat kata-kata dan berurusan langsung dengan apa yang sedang ditulis.  Namun pembelajaran aktif disini membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan konsentrasi penuh.  Pembelajaran pasif, di sisi lain, bekerja bahkan setelah hari yang melelahkan di kantor.


 # 2 Masak dengan buku masak atau resep bahasa asing!


 Apakah ada yang lebih baik dari makanan enak?  Mungkin tidak.  Dan tubuh serta pikiran Anda akan berterima kasih juga jika Anda lebih sering memasak makanan segar.  Untuk melakukan sesuatu untuk keterampilan bahasa Anda di sini juga dan dengan demikian untuk belajar secara pasif, Anda dapat menggunakan buku masak atau resep (misalnya dari Internet) dalam pembelajaran bahasa Anda.  Dengan cara ini Anda akan mempelajari kata-kata baru, menemukan budayanya, dan mengenal berbagai jenis teks pada saat yang bersamaan.


 # 3 Pergi ke kumpul-kumpul (internasional)!


 Temukan tabel pelanggan tetap yang hanya menggunakan bahasa pembelajaran Anda.  Jadi, Anda dapat bertemu orang baru dan meningkatkan keterampilan bahasa Anda pada saat yang bersamaan.  Seringkali ada juga penutur asli di meja bundar seperti itu, sehingga Anda juga memiliki kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang yang tumbuh dengan bahasa ini.


 Jika belum ada tabel tetap untuk bahasa pembelajaran Anda, Anda juga dapat membuatnya sendiri.  Peserta didik lain pasti akan senang juga!


 # 4 menulis surat!


 Tentu saja, Anda tidak hanya harus menulis surat, Anda juga dapat beralih ke versi modern: email.  Anda dapat bertemu orang baru, mempelajari budaya baru, dan pada saat yang sama meningkatkan keterampilan bahasa Anda - terutama dalam menulis.


 Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang surat atau email dan terlibat secara aktif dengannya, Anda dapat meminta sahabat pena Anda untuk mengoreksi teks Anda.  Jadi, Anda dapat mengatasi kesalahan Anda sendiri dan menggunakannya untuk pembelajaran Anda.


 # 5 Alihkan ponsel Anda ke bahasa pembelajaran Anda!


 Saat ini hampir tidak ada orang yang tidak memiliki smartphone.  Dan jika Anda berpikir tentang seberapa sering Anda memegang tangan Anda hari ini, Anda mungkin akan terkejut pada awalnya.  Tapi itulah dasar terbaik untuk menggunakan ponsel cerdas Anda untuk belajar.  Ubah bahasa dan mulailah pengalaman baru.


 Jika Anda ingin membuatnya lambat, Anda juga dapat membuat keyboard terpisah untuk setiap bahasa (biasanya Anda dapat menentukan ini di pengaturan).  Ini sangat membantu jika Anda juga menulis dalam bahasa pembelajaran Anda di ponsel cerdas.


 # 6 Kelilingi diri Anda dengan bahasa!


 Ini mungkin poin terpenting yang datang kepada Anda dalam pembelajaran pasif.  Kelilingi diri Anda dengan bahasa tersebut sesering mungkin.  Integrasikan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari Anda dan cobalah membangun kehidupan untuk diri Anda sendiri yang tidak mungkin lagi tanpa bahasa asing.

„Modalverb“ dalam Tata Bahasa Jerman

Kata kerja modal (Modalverb) dalam bahasa Jerman adalah dürfen (diperbolehkan untuk / mungkin) , kann (dapat) , mögen (menyukai / mungkin) , müssen (harus) , sollen (seharusnya) dan wollen (ingin). Kata kerja modal mengungkapkan kemampuan, kebutuhan, kewajiban, izin atau kemungkinan.           

Kuasai aturan untuk mengkonjugasikan kata kerja modal dan dapatkan tips tentang bagaimana dan kapan menggunakannya dalam bahasa Jerman. Dalam latihan, kalian bisa mempraktikkan apa yang telah kalian pelajari.

 

Contoh:

Max will Automechaniker werden. Dafür muss er viel über Autos wissen. Sein Vater soll ihm alles erklären. In der Werkstatt darf Max seinem Vater helfen. Max kann sogar schon Reifen wechseln.       

Pemakaian

Kita biasanya menggunakan kata kerja modal dengan infinitif dari kata kerja penuh. Arti kalimat dapat berubah tergantung pada kata kerja modal yang kita gunakan.       

Contoh :

Max will/darf/soll Automechaniker werden.

Max ingin / mungkin / harus menjadi montir mobil.

Jika kata kerja lengkap diasumsikan dari konteksnya, kita sering mengabaikannya dalam percakapan sehari-hari.  

Contoh :

Kannst du Deutsch (sprechen)?

Apakah kamu bisa berbicara bahasa Jerman)?

Willst du eine Pizza (essen)?

Apakah Anda ingin (makan) pizza?

Ich darf das (machen).

Saya diizinkan untuk melakukan itu).

Konjugasi dari Modalverb Bahasa Jerman

Untuk mengkonjugasikan kata kerja modal di masa sekarang dan masa lalu  , kita menggunakan bentuk konjugasi dari kata kerja modal sesuai subjeknya. Namun, untuk mengkonjugasikan kata kerja modal dalam bentuk Perfekt , kita menggunakan bentuk infinitive dari Modalverb dan kata kerja penuh, serta kata kerja terkonjugasi pada kata kerja bantunya (haben/sein).

Präsens

Präteritum

Perfekt

Er kann tanzen.

Dia bisa menari .  

Er konnte tanzen.

Dia bisa menari .  

Er hat tanzen können.

Dia telah bisa menari 

Du musst schlafen.

Kamu harus tidur .  

Du musstest schlafen.

Kamu harus tidur .  

Du hast schlafen müssen.

Kamu telah harus tidur 

Kita hanya menggunakan Partizip II pada kata kerja modal di bentuk Perfekt dan Plusquamperfekt dalam kalimat yang tanpa memiliki kata kerja penuh .         

Contoh :

Das habe/hatte ich nicht gewollt.

Saya tidak / saya tidak menginginkan itu.

Tabel Konjugasi

Tabel berikut menunjukkan konjugasi kata kerja modal dalam bentuk sekarang dan bentuk lampau serta konjugasi kata kerja untuk Perfekt dan Konjunktiv II .       

müssen

können

dürfen

sollen

wollen

mögen*

möchten**

present

ich

muss

kann

darf

soll

will

mag

möchte

du

musst

kannst

darfst

sollst

willst

magst

möchtest

er/sie/es/man

muss

kann

darf

soll

will

mag

möchte

wir

müssen

können

dürfen

sollen

wollen

mögen

möchten

ihr

müsst

könnt

dürft

sollt

wollt

mögt

möchtet

sie/Sie

müssen

können

dürfen

sollen

wollen

mögen

möchten

simple past

ich

musste

konnte

durfte

sollte

wollte

mochte

wollte

du

musstest

konntest

durftest

solltest

wolltest

mochtest

wolltest

er/sie/es/man

musste

konnte

durfte

sollte

wollte

mochte

wollte

wir

mussten

konnten

durften

sollten

wollten

mochten

wollten

ihr

musstet

konntet

durftet

solltet

wolltet

mochtet

wolltet

sie/Sie

mussten

konnten

durften

sollten

wollten

mochten

wollten

past participle

gemusst

gekonnt

gedurft

gesollt

gewollt

gemocht

gewollt

subjunctive II

müsste

könnte

dürfte

sollte

wollte

möchte

 

 

 

 

 

 

 

 

mögen biasanya digunakan tanpa kata kerja penuh saat ini - Aku menyukaimu   

** möchten sebenarnya adalah bentuk subjungtif/Konjunktiv II dari mögen, tetapi sekarang ini digunakan dalam bentuk sekarang sebagai kata kerja modal yang terpisah (untuk bentuk lampau, kami menggunakan wollen ).        

 

 

 

Ada kalanya kita tidak sepenuhnya memahami maksud yang sudah disampaikan oleh lawan bicara kita. Keadaan seperti itu biasanya membuat kita ingin menanyakan kembali maksud si lawan bicara. Namun bagaimanakah cara menyampaikan kalimat dalam meminta seseorang dalam mengulang kembali atau menjelaskan kembali maksudnya? Terkadang kita menyampaikan dengan mengartikan kata-kata dalam Bahasa Indonesia secara kata per kata ke dalam Bahasa Jerman. Tidak salah memang. Setidaknya itu bisa dicerna oleh orang berbahasa Jerman. Tapi ada beberapa kalimat yang biasa dan cocok disamapaikan dalam bahasa Jerman terkain meminta pengulangan maksud daripada lawan bicara. Apa itu? Ini dia:

 

Entschuldigung, wie bitte? (Maaf, bagaimana tadi?)

Können Sie das bitte buchstabieren? (Dapatkah Anda mengejanya?)

Das verstehe ich nicht. Können Sie das bitte wiederholen? (Saya tidak mengerti. Dapatkah Anda mengulanginya?)

Können Sie das bitte anschreiben? (Dapatkah Anda menuliskannya?)

Was ist das auf Deutsch? (Apa itu dalam bahasa Jerman?)

Wie heiβt das auf Deutsch?(Apa namanya dalam bahasa Jerman?)

Wie heiβt … auf Deutsch? (Apa nama … dalam bahasa Jerman?)

 ab

abfahren, abfliegen, abfragen, abgeben, abgewöhnen, abholen, ablesen, abmachen, abnehmen, absagen, abschalten, abschicken, abschließen, abstellen, abstimmen, abtrocknen, abwarten, abwechseln


an

anbieten, anfangen, anfassen, angeben, angehen, angewöhnen, angreifen, angucken, anhaben, anklopfen, ankommen, anlassen, anmachen, anmalen, anmelden, annehmen, anprobieren, anrufen, anschalten, anschauen, ansehen, ansprechen, anstehen, ansteigen, anwachsen, anwenden, anzeigen, anziehen



 

auf

aufatmen, aufbauen, aufbleiben, aufblicken, aufessen, auffordern, aufführen, aufgeben, aufgehen, aufhaben, aufhalten, aufhängen, aufheben, aufklären, auflassen, aufmachen, aufräumen, aufregen, aufschreiben, aufstehen, auftauchen, auftreten, aufwachen, aufwachsen, aufwecken, aufwischen


aus

ausatmen, ausbilden, ausbleiben, ausdenken, ausdrucken, ausfallen, ausfragen, ausgeben, ausgehen, auskennen, auslachen, ausleben, ausleihen, ausliegen, auslosen, ausmachen, ausmalen, ausnutzen, ausräumen, ausruhen, ausschalten, ausschlafen, ausschließen, ausschneiden, aussehen, aussprechen, aussteigen, ausstellen, austauschen, austeilen, austrinken, auswählen, auswandern, auswirken, ausziehen


auseinander

auseinanderfallen, auseinanderleben, auseinandersetzen


bei

beibringen, beiliegen, beisetzen, beitragen, beitreten


da

dableiben, dalassen, daliegen, dasitzen, dastehen


dar

darbieten, darlegen, darstellen


ein

einatmen, einbrechen, einchecken, eincremen, eingreifen, einhalten, einkaufen, einladen, einloggen, einpacken, einräumen, einschlafen, einsteigen, eintauchen, eintragen, einziehen


empor

emporfliegen, emporklettern, emporschauen


entgegen

entgegengehen, entgegenfahren, entgegenkommen, entgegennehmen, entgegentreten


entlang

entlangfahren, entlangführen, entlanggehen, entlangkommen, entlanglaufen


entzwei

entzweibrechen, entzweigehen


fehl

fehlinterpretieren, fehlschlagen


fern

fernbleiben, fernsehen, fernsteuern


fest

festbinden, festdrücken, festkleben, festknoten, festlegen, festliegen, feststellen


fort

fortbilden, fortbleiben, fortdauern, fortfahren, fortführen, fortkommen, fortlaufen, fortnehmen, fortrennen, fortschicken, fortschreiten, fortziehen


frei

freigeben (frei geben), freihaben (frei haben), freihalten (frei halten), freilassen (frei lassen), freimachen (frei machen), freinehmen (frei nehmen), freisprechen (frei sprechen)

Achtung: Manchmal ändert sich durch Getrennt- oder Zusammenschreibung die Bedeutung.


gegen

gegenhalten, gegenlesen, gegenrechnen, gegenzeichnen


gegenüber

gegenüberliegen, gegenübersetzen, gegenübersitzen, gegenüberstehen, gegenüberstellen, gegenübertreten


heim

heimbringen, heimfahren, heimfinden, heimliegen, heimgehen, heimkehren, heimkommen, heimreisen, heimschicken


her

herbitten, herbringen, hereilen, herfahren, herfinden, herholen, herkommen, herkriegen, hernehmen, herrufen, herschauen, herstellen,


hin

hinblicken, hinbringen, hinfahren, hinfallen, hinfliegen, hingehen, hingucken, hinhauen, hinhören, hinknien, hinkommen, hinkriegen, hinlaufen, hinnehmen, hinrennen, hinschicken, hinschmeißen, hinsehen, hinsetzen, hintragen, hinweisen, hinwerfen, hinziehen


hinterher

hinterherfahren, hinterhergehen, hinterhergucken, hinterherlaufen, hinterherschauen,


hoch

hochblicken, hochfahren, hochfliegen, hochgehen, hochhalten, hochheben, hochklettern, hochkommen, hochnehmen, hochschauen, hochsehen, hochspringen, hochsteigen, hochstellen, hochwerfen, hochziehen


inne

innehaben, innehalten, innewohnen


los

losbinden, losfahren, losfliegen, losgehen, loskommen, loslassen, loslaufen, losmachen, losrennen, losschicken, loswerden


mit

mitarbeiten, mitbringen, mitdenken, mitessen, mitfahren, mitfühlen, mitgeben, mitgehen, mithaben, mithelfen, mitkommen, mitkriegen, mitlesen, mitmachen, mitnehmen, mitreden, mitreisen, mitschreiben, mitsingen, mitspielen


nach

nachahmen, nachbessern, nachdenken, nachfahren, nachfeiern, nachfolgen, nachforschen, nachfragen, nachfüllen, nachgeben, nachgehen, nachgucken, nachholen, nachkommen, nachlassen, nachlaufen, nachlesen, nachmachen, nachprüfen, nachrennen, nachrufen, nachschauen, nachschlagen, nachsehen, nachsitzen, nachspielen, nachsprechen, nachsuchen


neben

nebenordnen, nebenschalten


nieder

niederbrennen, niederbrüllen, niedergehen, niederknien, niedermachen, niederschlagen, niederschreiben,


rück

rückdatieren, rückfragen, rückspulen


statt

stattfinden, stattgeben


teil

teilhaben, teilnehmen


vor

vorfahren, vorfinden, vorführen, vorgeben, vorgehen, vorhaben, vorherrschen, vorkommen, vorlesen, vormachen, vornehmen, vorschlagen, vorschreiben, vorsehen, vortragen, vorziehen


weg

wegbleiben, wegblicken, wegbringen, wegdrücken, wegfahren, wegfallen, wegfliegen, weggeben, weggehen, weggucken, weglassen, weglaufen, weglegen, wegmachen, wegnehmen, wegräumen, wegrennen, wegschauen, wegschicken, wegschmeißen, wegsehen, wegsetzen, wegstellen, wegtragen, wegtun, wegwerfen, wegziehen


weiter

weiterarbeiten, weiterbringen, weiteressen, weiterfahren, weiterführen, weitergeben, weitergehen, weiterhelfen, weiterkommen, weiterleben, weitermachen, weiterreden, weitersagen, weiterschlafen, weitersehen, weiterspielen, weitersprechen, weitersuchen


wett

wettlaufen, wettmachen, wettstreiten


zu

zubinden, zudecken, zudrehen, zudrücken, zufassen, zugehen, zugreifen, zugucken, zuhaben, zuhalten, zuhören, zuknoten, zulassen, zumachen, zunehmen, zuordnen, zurufen, zusagen, zuschauen, zuschicken, zuschließen, zusehen, zusenden, zusperren, zustimmen, zustoßen


zurecht

zurechtfinden, zurechtkommen, zurechtmachen, zurechtweisen


zurück

zurückblättern, zurückbleiben, zurückblicken, zurückbringen, zurückfahren, zurückfliegen, zurückgeben, zurückgehen, zurückkehren, zurückkommen, zurücklassen, zurückmelden, zurücknehmen, zurückreisen, zurückrufen, zurückschicken, zurückschreiben, zurücksehen, zurücktragen, zurücktreten


zusammen

zusammenarbeiten, zusammenbauen, zusammenbinden, zusammenbleiben, zusammenbrechen, zusammenbringen, zusammendrücken, zusammenfalten, zusammengehören, zusammenhaben, zusammenhängen, zusammenlaufen, zusammenleben, zusammenpassen, zusammenprallen, zusammenschlagen, zusammenschließen, zusammenschreiben, zusammensetzen, zusammensitzen, zusammenstellen, zusammenstoßen, zusammenstürzen, zusammentreffen, zusammenwirken


zwischen

zwischenlagern, zwischenlanden, zwischenspeichern

 Was ist Selbstheilung?

Übersetzt aus: drmiller.com

 Heilen bedeutet, ganzer zu werden, mehr zu erreichen, was Sie erreichen möchten, und Ihr Leben besser zu genießen.  Diese Ganzheit kann die Heilung einer physischen Wunde, eine emotionale Störung, ein schlecht angepasstes Verhalten (Wut, Sucht, Schüchternheit) oder Konfliktbeziehungen beinhalten.


 Heilung ist ein aktiver, lebendiger Prozess.  Sie können lernen, sich selbst zu heilen.  Medikamente, Nahrungsergänzungsmittel, Operationen, Bewegung - sie helfen, unterstützen aber nur den Selbstheilungsprozess.  Antibiotika können ein Bakterium schwächen, aber nur Ihr Immunsystem kann es tatsächlich töten und loswerden.  Studien zeigen, dass das Wichtigste, was Sie tun können, darin besteht, zu lernen, geistige und körperliche Entspannung und Ausgeglichenheit zu schaffen.  Zusammen mit geführten Bildern, Meditation, Selbsthypnose und Gebet sind dies sehr wirksame Werkzeuge, um dich gesund zu machen und dich gesund zu halten.


 Patient, heile dich


 Selbstheilung bezieht sich auf die Dinge, die Sie tun können, damit Ihr inneres System besser funktioniert und Sie schneller und gründlicher heilen.  Selbstheilung bedeutet, sich weise zu verhalten, sich auf die wahren Bedürfnisse von Körper, Geist, Seele und Seele einzustellen und kluge Entscheidungen zu treffen - richtig zu essen, richtig zu trainieren und die richtige Menge Schlaf zu bekommen.  Lernen Sie dreimal täglich zehn oder zwanzig Minuten lang tiefe Entspannung, wenn Sie noch bessere Ergebnisse erzielen möchten.


 Während dieser Zeit konzentrieren Sie sich auf Frieden, Harmonie, Schönheit, Liebe und andere ähnliche Erfahrungen.  Meditation, Gebet und andere tiefe Entspannungstechniken helfen Ihnen, Ablenkungen zu beseitigen.  Erlaube dir in dieser Zeit, dich vollständig so zu akzeptieren, wie du bist, und die Welt so zu akzeptieren, wie sie in diesem Moment ist - schließlich kann es in diesem Moment nicht anders sein als in diesem Moment!


 Fülle deinen Geist mit den Dingen, für die du dankbar bist, dass du sie in deinem Leben fühlen und erleben musst.  Danke und fühle die Dankbarkeit in deinem Körper.  Stellen Sie sich vor, wie Ihr Körper sich selbst heilt und ganzer und funktioneller wird.  Dann stellen Sie sich ganz gut, glücklich und gesund vor.  Das ist der Schlüssel zu den Geheimnissen der Selbstheilung!  Denken Sie daran, es mehrmals am Tag zu tun.


 Selbstheilender Stress


 Stress ist ein sehr wichtiger Bestandteil der meisten unserer Krankheiten.  Einige verursacht es, andere verschlimmert es.  Körperliche Anspannung und mentaler / emotionaler Stress erzeugen ungeordnete (inkohärente) neuronale Impulse in den Nerven und zirkulieren Stresschemikalien im Körper, die zum Beispiel Folgendes verursachen:


 Entzündung (Sehnenentzündung, Arthritis, GI-Probleme)


 Muskelschmerzen und Funktionsstörungen (Rücken- und Kopfschmerzen, Muskelverspannungen, erhöhter Blutdruck, Kolonstörungen)


 Emotionales Ungleichgewicht (Angst, Reizbarkeit, Wut, Depression, Unglück)


 Psychische Dysfunktion (geringe Kreativität, Schlaflosigkeit, Aufschub, Aufmerksamkeitsdefizit)


 Verhaltensstörungen (Trinken, Rauchen, Essen)


 Chronischer Stress über einen langen Zeitraum schrumpft tatsächlich das Gehirn und tötet Millionen von Neuronen


 Tief entspannte Zustände bringen das System wieder ins Gleichgewicht.  Die meisten Ungleichgewichte und Störungen (Krankheiten, Funktionsstörungen, Symptome oder Krankheiten) werden entweder durch körperliche Anspannung und mentalen / emotionalen Stress verursacht oder verschlimmert.  Tiefenentspannung ist das direkte Gegenmittel gegen Stress und wird daher häufig in Selbstheilungstechniken eingesetzt.


 Um Ihre Heilung zu beschleunigen, sollten Sie den Geist, seine Gedanken und Emotionen weise leiten, um auf eine Weise zu funktionieren, die mit dem Heilungsprozess übereinstimmt, den Sie erleichtern möchten.  Mit anderen Worten, seien Sie die Änderung, die Sie erstellen möchten.

 Salam bagi pembaca sekalian.


 Welche Nummer haben Sie?




 Ich habe die Nummer eins, fünf, drei, zwei


 atau:



Ich habe die Nummer

eintausendfünfhundertzweiunddreißig.






Kalian bisa membaca angka/nomor dengan berbagai cara.  Bisa dengan menamai digit satu per satu atau membaca nomor secara keseluruhan.  Semakin panjang angkanya, semakin mudah untuk memberi nama masing-masing digit.  Untuk nomor telepon dan nomor rekening bank, nomor tersebut dipanggil secara satu per satu atau berpasangan.



Wie ist deine Telefonnummer? – Meine Telefonnummer ist 257764.



Meine Telefonnummer ist zwei, fünf, sieben, sieben, sechs, vier.


Atau:


Meine Telefonnummer ist fünfundzwanzig, siebenundsiebzig, vierundsechzig.




Info seputar pertanyaan tadi. Agar tidak ada kekeliruan.

CMIIW

Relativsatz adalah Nebensatz, tapi Nebensatz belum tentu Relativsatz, sebab masih ada beberapa hal yang dapat membentuk Nebensatz, seperti Konjunktion, Präposition, usw.

Relativsatz adalah kalimat relatif, artinya dia berbentuk kalimat (dalam hal ini bentuk anak kalimat atau Nebensatz). Pembentukan Relativsatz ini terjadi karena adanya struktur relatif pembentuknya, antara lain:
1. Relativpronomen, artinya dia merupakan pronomen: der, die, das, den, dem, dessen, wer, wen, wem, wessen.
2. Relativadverbien, artinya dia merupakan adverb: wo, wohin, woher, usw.

Maka ketika terdapat kalimat:
"Ich weiß nicht, wo die Tasche ist."

Apabila ditanyakan:
Yang mana Relativsatz?
Jawabnya : Ich weiß nicht, wo die Tasche ist.

Yang mana Relativadverbien?
Jawabnya: Ich weiß nicht, wo die Tasche ist.

Catatan:Relativsatz dibentuk dengan kata kerja terkonjugasi terletak di akhir kalimat (dalam hal ini sebatas _Nebensatz_ itu, karna bisa saja masih ada lanjutannya.)


Danke!

CMIIW
Halo semua!

Hemmm.
Tadi tentang "das", "dieses" masih belum kelar, ya. Hemm

Cmiiw

Das itu:
1. Pronomen (kata ganti)
Misal: *Das* ist ein Baum. > Ini/Itu (tergantung kebutuhan) adalah sebuah pohon.
*Das* ist ein Buch. > Ini/Itu (tergantung kebutuhan) adalah sebuah buku.
*Das* ist eine Lampe. > Ini/Itu (tergantung kebutuhan) adalah sebuah lampu.

Dalam hal ini, *"das"* adalah sebagai kata penunjuk, bahwa sesuatu itu ada.
Bisa sebagai "ini" atau "itu". Tapi ingat! Hanya sebagai kata ganti (Pronomen), yang menyatakan bahwa sesuatu itu *ada*.
Dalam hal ini, *"das"* setara dengan *"Es"* , *"dies"* , misal "Es ist ......" , "Dies ist ....". Ingat! Saya bilang setara, bukan sama. Hemm.

2. Artikel Tentu (Bestimmer Artikel) untuk bentuk *"Neutral"* .
Misal:
Es gibt ein Buch in meinem Raum. *Das* Buch ist auf einem Tisch.

Nah, dalam hal ini, *das* berarti kata sandang (artikel) untuk kata benda "Buch". Dan namanya juga "Bestimmter Artikel", berarti artikel tentu. Kita memakai *das* sebagai artikel tentu kalau kita sudah menyinggung hal yang sama, seperti contoh di atas tadi. Lebih jelasnya lihat ke bawah, jangan ke atas saja.
Es gibt *ein* Buch. > Ada sebuah buku. (Karna orang belum tau apa, makanya pakai *ein*. Jangan baru mau mulai cerita, udah nyerocos pake "der, die, das"). Hemm. 
Nah. Kan di sini pake artikel tak tentu dulu. Nah setelah itu pakai lah artikel tentu: (Karna dh cerita kan kalau ada sebuah buku, trus mau lanjut cerita dengan benda yang sama, pakai lah "das" sebagai artikel tentu. Itu artinya dinamakan "Artikel Tentu". Karna sudah jelas, sudah disampaikan sebelumnya dengan kata "ein"). Lanjutlah dengan:
*Das* Buch liegt auf einem Tisch.
Nah. *Das* di sini setara dengan *dieses*, *jenes*. Ingaaaaat. Saya bilang setara, bukan sama. Hemm.

Jadi *das* und *dieses* untuk point no.2 ini posisinya sama, ya.

.
.
.
.
.
.
.

Kesimpulan:

No.1
*Das* sebagai "Pronomen".
Setara dengan *dies* , dan *es* .

No. 2
*Das* sebagai "Bestimmter Artikel" untuk _Neutral_ .
Setara dengan *dieses* , *jenes* .

Ingaaaat. Setara, bukan sama. Hemmmm


Cmiiw.


Memaafkan(vergeben): Memaafkan ada hubungannya dengan "memberi", yaitu dengan "hadiah".  Kata ini juga dapat digunakan dalam konteks yang sama sekali berbeda, seperti "pemberian beasiswa".  Jadi ini tentang seseorang yang mendapatkan sesuatu.  Dalam hal ini, seseorang yang telah melakukan kesalahan menerima remisi.

 Maafkan(verzeihen): Saya "memaafkan" istilah lama untuk "menuduh".  Pengampunan berarti kebalikan dari tuduhan.  Dakwaan atau tuduhan dicabut.

Jadi Anda bisa mengatakan: Jika saya memaafkan(verzeihen) seseorang, saya tidak akan meminta mereka lagi, menuduh mereka atau menuduh mereka apa pun.  Masalahnya ada di luar meja, meskipun saya mungkin tidak bisa melupakannya.  Pengampunan adalah tindakan kemauan, sesuatu yang bisa saya katakan, bahkan jika saya belum merasakannya di hati saya.

 Namun, pengampunan(vergeben) lebih dalam.  Jika saya melepaskan seseorang dari kesalahannya, saya tidak hanya menarik tuduhan saya terhadap kesalahan itu, tetapi juga mengatakannya dengan bebas.  Tetapi pengampunan selalu memiliki sedikit sentuhan religius, karena itu dianggap sebagai kebajikan yang layak diperjuangkan di banyak agama.
Semua objek dalam kalimat, baik itu Objek Akk, Dat merupakan sesuatu yang dikenai pekerjaan. Tidak hanya objek Akk.

Tapi perlu diketahui perinciannya:
Objek Akk ialah objek penderita, dimana akibat dari pekerjaan yang dikenakan padanya diperuntukkan untuk objek Dat.
Misal: Er kauft seiner Frau eine Tasche.
Dia membelikan ibunya sebuah Tas.
Atau
Dia membelikan Tas untuk/kepada ibunya.
Tas, sebagai objek Akk merupakan objek penderitanya, sebab itu yang dibeli. Dibeli untuk ibunya. Di sini nampak jelas, bahwa objek Akk menjadi korban untuk objek Dat.
So dalam hal ini, Objek Akk itu finalnya ke objek Dat. Atau: Objek Dativ adalah objek final, dimana objek Akk ditujukan padanya(objek Dat).



W-Fragen adalah kata-kata tanya yang berawalan "W". Kalimat tanya yang memakai kata tanya ini tidak dijawab dengan "Ya atau Tidak". Jawaban untuk pertanyaan demikian adalah struktur kalimat itu sendiri, sebab yang ditanyakan adalah bagian yang membangun kalimat itu sendiri.

Masih bingung maksudnya? Mari kita masuk lebih dalam ke materi ini! Apa saja W-Fragen itu?

Pada umumnya terdapat 6 kata tanya W-Fragen, antara lain:

1. Was? (Apa?)

2. Wer? (Siapa?)

3. Wo? (Dimana?)

4. Wie? (Berapa/Bagaimana?)

5. Wann? (Kapan?)

6. Warum? (Mengapa?)

 

Tapi, beberapa di antara W-Fragen tersebut ada juga yang memiliki bentuk lain karena alasan tertentu, seperti pengaruh kasus, dan komposita dengan preposisi, dan ada juga kata tanya tambahan demonstrativ. Kita akan menelusuri apa saja yang tergolong ke pembagian tersebut.

Mari kita mulai dari yang pengaruhnya berasal dari kasus!

Yang pertama,

Kasus Nominativ:

Was, dan Wer.

Untuk lebih memahami maksudnya, bayangkan Was sama dengan artikel Das. Sedangkan Wer diwakilkan oleh Der.

Ini berarti, kata tanya tersebut digunakan untuk menanyakan subjek, yang terkena kasus Nominativ.

Misalnya,

Was ist das? (Apa itu?)

Dalam hal ini Was adalah perwakilan dari subjek, yang masih menjadi misteri, sehingga merupakan pokok pertanyaannya.

Maka jawabannya harus merupakan sesuatu yang menggantikan posisi Was, misalnya: Das ist ein Buch. (Itu adalah sebuah buku.)

Atau Ein Buch ist das. (Itu adalah sebuah buku.) Bentuk kalimat seperti ini jarang dipakai. Orang lebih sering memakai kata "Das" terlebih dulu. Sebagai informasi, Was biasanya dipakai untuk kata benda dengan jenis Neutral. Jadi ingat saja "das".

Selanjutnya,

Wer ist unser Lehrer? (Siapa guru kita?)

Sama seperti Was, wer adalah kata tanya yang menanyakan subjek orang. Maka jawabannya harus merupakan orang, misalnya: Unser Lehrer ist Herr Müller. (Guru kita adalah Pak Müller.)

Atau Herr Müller ist unser Lehrer. (Pak Müller adalah guru kita.) Tapi ini bukan berarti jawabannya harus nama orang, ya. Melainkan apapun yang merujuk pada subjek orang. Misalnya:

Wer kocht den Reis? (Siapa yang memasak nasi itu?) Contoh jawabannya misalnya: Meine Mutter kocht den Reis atau Den Reis kocht meine Mutter. Yang artinya Ibu saya memasak nasi itu.

 

Kini kita beralih ke W-Fragen yang menanyakan objek Akkusativ.

Nah, jika tadi saya katakan, Was diwakilkan oleh das, dan wer diwakilkan oleh der, maka pembentukan Akkusativnya juga mengikuti bentuk artikel yang mewakili W-Frage tersebut. Misalnya Akkusativ dari Was/das tetap Was/das. Akkusativ wer/der adalah wen/den. Paham, ya..

 

Sekarang kita gunakan dalam kalimat.

Was sucht er? (Apa yang dia cari?)

Dalam kalimat tanya tersebut, Was mewakilkan objek Akkusativnya, sedangkan Er merupakan subjeknya, dan sucht merupakan kata kerja yang sudah dikonjugasikan oleh subjek "er".

Nah, jika demikian, kita butuh objek Akkusativ untuk menggantikan "Was" sebagaimana telah menjadi pokok pertanyaan. Misalnya: Er sucht seine Schuhe. Atau Seine Schuhe sucht er. (Dia mencari sepatunya).

Selanjutnya Akkusativ dari Wer, yaitu Wen. Contoh kalimat pertanyaannya adalah:

Wen siehst du? (Siapa yang kamu lihat?).

Dalam hal ini, Wen akan digantikan dengan objek Akkusativ orang sebagai jawabannya. Misalnya: Ich sehe meinen Bruder. Atau Meinen Bruder sehe ich. (Saya melihat saudara laki-laki saya).

Selanjutnya kita beralih ke pengaruh kasus Dativ. Dativ daripada Was/das, dan wer/der seharusnya adalah  wem/dem menurut aturan perubahan dativ untuk das, dan der adalah sama, yaitu dem. Akan tetapi Wem hanya dipakai untuk orang, yang berarti hanya digunakan sebagai bentuk Dativ dari Wer. Untuk Was untuk menanyakan bentuk Dativnya tetap Was dengan catatan, bahwa penggunaanya hanya untuk pernyataan "Umgangspraclich".

Misalnya: Was stimmst du nicht zu? (Apa yang kamu tidak setuju?)

Seperti kita ketahui, bahwa pada kata kerja zustimmen, objeknya selalu berbentuk Dativ.

Sehingga, kita dapat menjawabnya dengan objek dativ, misalnya:

Ich stimme der Meinung nicht zu. Atau Der Meinung stimme ich nicht zu. (Saya tidak setuju dengan pendapat itu). Karena penggunaan Was sebagai dativ merupakan bentuk "umgangsprachlich", maka agar menjadi kalimat yang resmi, kita bisa ganti bentuk pertanyaannya tanpa mengubah makna pertanyaan itu sendiri, misalnya dengan menggunakan kata tanya Welche. Kata tanya ini juga dipengaruhi kasus yang dipakaikan kepadanya. Hal ini juga akan dibahas secara terpisah selanjutnya. Seperti apa penggunaannya untuk menggantikan kalimat sebelumnya? Kita dapat mengatakan:

Welchem Ding stimmst du nicht zu? (Hal yang mana yang tidak kamu setuju?)

Dan jawabannya tetap seperti jawaban sebelumnya.

Sedangkan untuk Wem, kita bisa menanyakan hal seperti berikut:

Wem hilft er? (Siapa yang dia tolong?)

Sama seperti kata kerja "zustimmen", kata kerja "helfen" juga selalu ditambahkan dengan objek Dativ. Sehingga kita bisa menjawabnya seperti ini:

Er hilft seiner Mutter. Atau Seiner Mutter hilft er. (Dia menolong ibunya).

Nah. Bentuk tadi merupakan bentuk dativ pengaruh kata kerja, yaitu "helfen". Kata tanya ini juga berlaku bagi semua yang mengandung kasus dativ, seperti adanya dua objek dalam satu kalimat, yaitu Objek Akkusativ, dan Objek Dativ, atau hanya salah satunya. Misalnya:

Wem gibt er ein Buch? (Siapa yang dia berikan sebuah buku?)

Kita bisa jawab dengan contoh berikut:

Er gibt dem Kind ein Eis. Atau Dem Kind gibt er ein Buch. Atau Ein Buch gibt er dem Kind. (Dia memberikan anak itu sebuah buku).

Jika kamu masih bingung tentang susunan kata dalam kalimat yang terkadang berubah posisi, silahkan klik info di atas. Di sana saya telah pernah mengulasnya.

Sekarang kita lanjut ke pengaruh kasus Genitiv.

Kasus Genitiv itu sendiri menyatakan kepemilikan.

Nah. Dalam hal ini, baik untuk Was atau Wer, bentuk Genitivnya sama, sebagaimana das atau der genitivnya sama, yaitu des. Nah untuk was atau wem, bentuk genitivnya adalah Wessen. Hanya saja kita perlu ketahui, bahwa jika kita menanyakan kepemilikan sebuah benda, itu berarti jawabannya adalah benda. Jika yang dimaksud adalah kepemilikan orang, maka, jawabannya adalah orang.

Masih belum paham?

Mari ikuti penggunaannya, ya.

Contoh yang menanyakan pemilik benda:

Wessen Seite ist das? (Halaman daripada apa itu?)

Nah, Wessen dalam hal ini adalah menanyakan pemilik dari Seite. Maka kita dapat menjawabnya dengan:

Das ist die Seite des Buches. (Itu adalah halaman daripada buku itu).

Mengenai penambahan es pada kata Buch, dapat kamu dalami pada info di atas.

Sekarang kita beralih ke penggunaan wessen sebagai bentuk pertanyaan untuk orangnya, misalnya:

Wessen Tasche ist das? (Tas siapa itu?)

Kita dapat menjawab dengan mengganti wessen dengan pemiliknya, seperti:

Das ist die Tasche seiner Schwester. (Itu tas saudara perempuannya).

Atau bisa juga dengan:

Das ist die Tasche von ihr. Atau Das ist ihre Tasche. (Itu adalah Tasnya).

Bentuk lain juga bisa, misalnya:

Das ist die Tasche von Paula. Atau Das ist Paulas Tasche. (Itu adalah tas Paula)

Mengenai materi bentuk Genitiv ini bisa kamu dalami dengan klik info di atas.

 

 

 

 

 

 




KASUS

Tahukah kamu? Dalam bahasa Jerman terdapat 4 kasus.  4 kasus tersebut secara urutan yang resmi sejak dulu adalah Nominativ, Genitiv, Dativ, dan Akkusativ.  Kasus ini menunjukkan hubungan antara kata benda dan unsur-unsur lain dalam kalimat.  Kata benda (Nomen), Artikel, dan kata ganti (Pronomen) disesuaikan dengan kasus ini. Ini disebut deklinasi.  Kata benda, artikel, dan kata ganti dapat berubah tergantung pada fungsinya.

Untuk apa kamu membutuhkan "Kasus"?

Untuk memahami arti dan tujuan dari kasus ini, pertama sekali, coba perhatikan contoh kalimat ini!

Die Frau der Lehrer geben die Tochter der Schulleiter der Hut.

Apakah kamu mengerti? Tentu saja tidak. Hal itu terjadi karena kalimat tersebut tidak memiliki arah yang jelas. Kita tidak akan mengetahui yang mana satu subjeknya, dan yang mana pula objeknya. Karenanya setiap kata dari kalimat tersebut perlu dideklinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya.
Deklinasi adalah perubahan pada kata tertentu yang dipengaruhi oleh kasus, jumlah, dan jenis kelamin. Setiap kasus tidak hanya memiliki fungsi, tetapi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kalimat dapat dipahami. 

Sekarang coba perhatikan kalimat yang sudah mengalami deklinasi ini!

Die Frau des Lehrers gibt der Tochter des Schulleiters den Hut.

Istri daripada guru tersebut memberikan putri daripada kepala sekolah tersebut topi itu.

Kalimat ini menjadi jelas, karena setiap kata punya perannya masing-masing dalam kasus.
Di sinilah penerapan 4 kasus yang benar sangat penting untuk memahami bahasa Jerman.

Dengan demikian deklinasi memungkinkan untuk memperjelas hubungan kata benda dengan unsur-unsur kalimat.  Apabila dinyatakan dengan benar berarti semuanya jelas.

Sekarang, coba perhatikan tabel susunan kalimat berikut.
.
.
.
Nah, sekarang kamu mengetahui, bahwa agar kalimat tersebut dapat dipahami dengan benar, maka penempatan, dan pemakaian kasusnya juga harus tepat sesuai kebutuhan.
Coba perhatikan lagi! Untuk membentuk subjek saja, terdapat 2 buah kasus, yaitu kasus Nominativ, dan Genitiv, walau dalam hal ini, Genitiv adalah kasus yang mengungkapkan adanya pemilik dari kata benda sebelumnya, sehingga Genitiv bukanlah keharusan, melainkan keberadaannya hanya dibutuhkan ketika dia dibutuhkan sebagai pemilik. Kemudian terdapat kata kerja yang sudah mengalami perubahan karena dikonjugasikan oleh subjeknya. Selanjutnya ada 2 buah objek, yaitu objek Dativ yang bersamaan dengan kasus Genitiv juga,  dan satu lagi objek Akkusativ.
Wah...Rumit, ya..
Sebenarnya, ini tidaklah serumit yang kamu pikirkan. Tonton terus video ini untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.
.
.
.


Nominativ+Genitiv
Prädikat
Dativ+Genitiv
Akkusativ
Die Frau des Lehrers


Isteri daripada guru tersebut
gibt




memberi-kan
der Tochter des Schulleiters


putri daripada kepala sekolah tetsebut
den Hut.




topi itu.



Semua 4 kasus tersebut dapat ditanyakan dengan "W-Frage".  Jika kamu menemukan kalimat dengan susunan kata yang berbeda, namun benar secara tata bahasa, kamu akan segera menemukan subjek dan objek kasus dalam kalimat tersebut.  Ini adalah hal, dimana subjek kalimat selalu dalam Nominativ, sedangkan objeknya dalam kasus Dativ atau Akkusativ. Sedangkan kasus Genitiv dapat diletakkan pada kata benda yang sudah terkena kasus lainnya, karena kasus Genitiv hanya bertujuan untuk menyatakan kepemilikan baik subjek maupun objek.

Coba perhatikan tabel Kasus pada Bestimmte Artikel, dan Unbestimmte Artikel berikut!

Kasus Frage
Kasus
Wer? oder Was?
Nominativ (1. Kasus)
Wessen?
Genitiv (2. Kasus)
Wem?
Dativ (3. Kasus)
Wen? oder Was?
Akkusativ (4. Kasus)
Maskulin
(männlich)
der Vater

ein Vater
des Vaters

eines Vaters
dem Vater

einem Vater
den Vater

einen Vater
Feminin
(weiblich)
die Mutter

eine Mutter
der Mutter

einer Mutter
der Mutter

einer Mutter
die Mutter

eine Mutter
Neutral
(sächlich)
das Kind

ein Kind
des Kindes

eines Kindes
dem Kind

einem Kind
das Kind

ein Kind
Plural
(mehrzahl)
die Männer
-
der Männer
-
den Männern
-
die Männer
-


Sekarang mari kita kupas satu per satu!
.
.
.

Kasus I : Nominativ

Nominativ adalah bentuk dasar dari kata benda, juga substantiv, dan dalam kaitannya dengan deklinasi kasus pertama dalam bahasa Jerman.  Dalam kalimat bahasa Jerman, subjek kalimat selalu dalam Nominativ.  Nominativ juga disebut sebagai Kasus "Wer" atau Kasus I.

Nominativ dapat ditentukan dengan pertanyaan "Wer / Was?".  Sebagai contoh, saya memilih kata benda untuk dijadikan pembentuk kalimat dan mencoba menanyakannya dengan "Wer / Was?".  Dalam praktiknya terlihat seperti ini:

Der Vater schießt ein Tor!
Wer oder was schießt ein Tor?
Der Vater!

Jika kata benda berada dalam bentuk Nominativ, elemen kalimat lainnya yang sesuai harus dideklinasikan.  Kata sandang (artikel) dan kata ganti beradaptasi dengan kata benda dalam Nominativ seperti tabel contoh berikut ini:

Artikel dan kata sifat dalam Nominativ pada Bestimmte Artikel, dan Unbestimmte Artikel, possessivartikel (ihr), serta kein Artikel:

Masing-masing jenis kelamin saya beri contoh.
Maskulin, yaitu "Vater"; Feminin, yaitu "Mutter"; Neutral, yaitu "Kind"; dan Plural, yaitu "Männer".

Kita mulai dari Maskulin.
Vater apabila dibubuhi artikel tentu, maka ia akan menjadi "der Vater". Apabila dibubuhkan kata sifat akan menjadi "lieber Vater". Apabila kita gabungkan keduanya akan menjadi "der liebe Vater", bukan der lieber Vater karena petunjuk bahwa ia maskulin sudah diwakilkan oleh "der" sedangkan kata sifat "lieb" hanya mendapatkan tambahan "e". Tapi itu dengan artikel tentu, sekarang kita coba memakai artikel tak tentu dan kata sifat, kita akan mendapati "ein lieber Vater", di sini kita mendapati kata sifatnya mendapat tambahan "er", ya tentu saja, karena kita perlu menandainya dengan identitasnya sebagai kata benda maskulin. Lalu mengapa bukan einer saja? Ein sudah menjadi bentuk dasar dari unbestimmte Artikel untuk maskulin-Nominativ. Sekarang bagaimana jika kita gabungkan antara possessivartikel "ihr" dan kata sifat? Begini jadinya. Unsurnya sama dengan bentuk unbeatimmte Artikel, yaitu "ihr lieber Vater", alasannya juga sama, yaitu penambahan "er" diletakkan pada kata sifat, bukan pada "ihr", karena "ihr" sudah merupakan bentuk dasar pada maskulin-Nominativ. Kita beralih pada kata benda yang hanya ditambahi dengan kata sifat, yang disebut Nomen ohne Artikel. Tentu saja bentuknya akan menjadi "lieber Vater", sebab kita tidak perlu pusing lagi menempatkan "er". Hanya ada kata sifat selain kata benda.

Sekarang mari ambil fokus ke feminin!
Contoh Nomennya adalah "Mutter". Pada bestimmte Artikel+kata sifat akan menjadi "die liebe Mutter". Sperti yang kita ketahui bentuk artikel dasar pada feminin-Nominativ adalah "die", dan jelas sudah kelihatan identitasnya sebagai feminin-Nominativ, sehingga kata sifatnya tinggal ditambahi "e" saja. Kita beralih ke unbestimmte Artikel+kata sifat. Bentuknya akan menjadi "eine liebe Mutter". Anda sudah bisa menebaknya bukan? Ya, "eine" sendiri sudah jelas menunjukkan identitasnya sebagai feminin-Nominativ, dan karenanya kata sifatnya hanya ditambahi "e" saja. Pasti sudah lebih mudah bagi kamu membentuk kata sifat+Nomen. Ya, "liebe Mutter". Akhiran "e" adalah ciri khas feminin-Nominativ…..


Bestimmter Artikel
Unbestimmter Artikel
Possessivartikel (ihr..)
Kein Artikel
Maskulin
(männlich)
der liebe Vater
ein lieber Vater
ihr lieber Vater
lieber Vater
Feminin
(weiblich)
die liebe Mutter
eine liebe Mutter
ihre liebe Mutter
liebe Mutter
Neutral
(sächlich)
das liebe Kind
ein liebes Kind
ihr liebes Kind
liebes Kind
Plural
(mehrzahl)
die lieben Männer
-
keine lieben Männer
ihre liebe Männer
liebe Männer



 Kata ganti dalam Nominativ



Personalpronomen
Possessivpronomen
(Begleiter)
Possessivpronomen
(Ersatz)
maskulin,
neutral
feminin,
plural
maskulin
neutral
feminin,
plural
  1. Person Singular
Ich
Mein
Meine
Meiner
Meins
Meine
  1. Person Singular (informal)
Du
Dein
Deine
Deiner
Deins
Deine
  1. Person singular (m)
Er
Sein
Seine
Seiner
Seins
Seine
3. Person Singular (f)
Sie
Ihr
Ihre
Ihrer
Ihr(e)s
Ihre
3. Person Singular (n)
Es
Sein
Seine
Seiner
Seins
Seine
  1. Person Plural
Wir
Unser
Unsere
Uns(e)rer
Unseres
Unsere
  1. Person Plural
Ihr
Euer
Eure
Eu(e)rer
Eures
Eure
  1. Person Plural,
2. Person Singular (formal)
Sie, Sie
Ihr
Ihre
Ihrer
Ihr(e)s


.
.
.

Kasus II : Genitiv

Genitiv adalah kasus kedua dan digunakan untuk menunjukkan kepemilikan.  Lebih jauh lagi, Genitiv terletak setelah beberapa kata sifat, preposisi dan kata kerja.  Ngomong-ngomong objek suatu kalimat juga dapat berupa Genitiv (Objek Genitiv).  Genitiv juga disebut sebagai Kasus II atau Kasus kepemilikan.

Ternyata Genitiv tidak saja dipakai untuk sekedar sebagai kepemilikan, yang kadang ditanyakan dengan kata tanya"Wessen + Nomen".
Genitiv juga bisa dipakai untuk pertanyaan "Wessen + Verb". Tentu saja masih menanyakan seputar kepemilikan.
Kasus Genitiv sejatinya dapat diletakkan pada semua kasus lainnya sebagai bentuk kepemilikan.
Lalu bagaimana hal itu dijelaskan, mari simak pembahasan berikut ini!

Hal ini sebenarnya agak jarang dalam bahasa Jerman, sehingga kadang-kadang digunakan dalam ekspresi tingkat tinggi atau gaya penulisan formal, bahkan hampir tidak sama sekali dalam bahasa lisan.  Selain itu, hal tersebut hanya diperlukan oleh beberapa kata kerja.

Beberapa kegunaan yang mungkin untuk mengklarifikasi objek Genitiv terlihat sebagai berikut:

Objek Genitiv hanya diperlukan oleh beberapa kata kerja.  Beberapa kata kerja ini (kata-kata aktivitas) misalnya:

sich erinnern, bedürfen, beschuldigen, sich annehmen, sich bemächtigen, gedenken, sich rühmen, sich entledigen usw.

Hal tersebut dapat muncul sebagaimana contoh berikut ini; 
Contoh kalimat dengan objek genitif yang terdiri dari satu atau lebih kata:

„Er erbarmt sich ihrer.“ (Possessivpronomen ‚ihrer‘)

„Die Hellseherin bemächtigte sich seiner Gutgläubigkeit.“ (Possessivpronomen ‚seiner‘ + Nomen ‚Gutgläubigkeit‘)


Objek Genitiv juga dapat terdiri dari seluruh kalimat, yang disebut kalimat objek:

„Der Sieger rühmte sich, dass er noch mit kaputtem Reifen ins Ziel kam.“ (ersatzweise wäre „Er rühmte sich dessen.“ möglich)



Selain itu, objek Genitiv dapat ditentukan dengan pertanyaan "Wessen?":

„Die Abenteurer entledigten sich ihrer verschlissenen Sachen und wanderten weiter.“ ( ‚ihrer‘ als Begleiter + Partizip Perfekt ‚verschlissenen‘ als Attribut + Nomen ‚Sachen‘)


Pertanyaan tentang Genitivnya adalah: „Wessen entledigten sie sich?“
Antwort: „Ihrer verschlissenen Sachen.“

Tidak jarang kalimat memiliki beberapa objek.  Jumlah objek dan jenisnya tergantung pada nilai (valensi) dari kata kerja masing-masing:

„Petra beschuldigte ihren Nachbarn des Diebstahls.“

Frage zur Bestimmung: „Wen (oder was) beschuldigte Petra?“

Antwort: „Ihren Nachbarn.“

Antwort: „Des Diebstahls.“
‚des Diebstahls‘ ist also das Genitivobjekt.


'Tetangga mereka' dengan demikian merupakan objek akusatif dari kalimat tersebut.

Pertanyaan lain: „Wessen beschuldigte Petra ihren Nachbarn?“

Jawab: "Des Diebstahls."

'Pencurian' adalah objek genitif.
.
.
.

Genitiv dapat diidentifikasi dengan pertanyaan "Wessen?".  Untuk melakukan ini, saya memilih kata benda dari kalimat apa pun dan mencoba menggunakan kata benda?  Untuk bertanya.  Jika ini berhasil, kata benda dalam kasus kedua.

Wir gedenken der Verstorbenen.
Wessen gedenken wir?
Der Verstorbenen!


Jika dalam sebuat kalimat, terdapat kata benda dalam Genitiv, maka bagian kalimat yang sesuai harus dideklinasikan.  Kata sandang (artikel) dan kata ganti beradaptasi dengan kata benda dalam Genitiv seperti tabel contoh berikut ini:

 Artikel dan kata sifat dalam Genitiv




Bestimmter Artikel
Unbestimmter Artikel
Possessivartikel (ihr..)
Kein Artikel
Maskulin
(männlich)
des lieben Vaters
eines lieben Vaters
ihres lieben Vaters
lieben Vaters
Feminin
(weiblich)
der lieben Mutter
einer lieben Mutter
ihrer lieben Mutter
lieber Mutter
Neutral
(sächlich)
des lieben Kindes
eines lieben Kindes
ihres lieben Kindes
lieben Kindes
Plural
(mehrzahl)
der lieben Männer
-
keiner lieben Männer
ihrer lieben Männer
lieber Männer


 Kata ganti dalam Genitiv:



Personalpronomen
Possessivpronomen
(Begleiter, Ersatz)

maskulin,
neutral
feminin,
plural
  1. Person Singular
Meiner
Meines
Meiner
  1. Person Singular (informal)
Deiner
Deines
Deiner
  1. Person singular (m)
Seiner
Seines
Seiner
3. Person Singular (f)
Ihrer
Ihres
Ihrer
3. Person Singular (n)
Seiner
Seines
Seiner
  1. Person Plural
Unser
Unseres
Unserer
  1. Person Plural
Euer
Eures
Eurer
  1. Person Plural,
2. Person Singular (formal)
Ihrer, Ihrer
Ihres
Ihrer


Catatan: Beberapa kata sifat, preposisi dan kata kerja membutuhkan Genitiv. 

Kata sifat: des Weges kundig, der Sache sicher, des Lebens überdrüssig

Preposisi: mangels, mittels, dank, trotz, außerhalb, wegen, beiderseits, diesseits, jenseits, unweit, entlang, links, rechts, nördlich, südlich, trotz, ungeachtet …

Kata kerja: anklagen, beschuldigen, brüsten, enthalten, rühmen, schämen, erinnern, freuen


Kasus ke-3: Dativ

Dativ adalah kasus ketiga dalam tata bahasa Jerman.  Dativ digunakan sesuai dengan preposisi dan kata kerja tertentu.  Objek kalimat dapat berupa Dativ (Objek Dativ).  Dativ juga disebut sebagai Kasus III atau Kasus "siapa".  Dativ dan Akkusativ sebagian identik.

Dativ bisa diidentifikasi dengan pertanyaan "Wem?".  Sebagai contoh, saya memilih kata benda untukndijadikan kalimat dan mencoba menanyakannya dengan "Wem?".  Dalam praktiknya, tampilannya seperti ini:

Das Auto gehört der Mutter.
Wem gehört das Auto? Der Mutter!

Jika ada kata benda dalam Dativ, bagian kalimat yang sesuai harus dideklinasikan.  Kata sandang (artikel) dan kata ganti beradaptasi dengan kata benda dalam Dativ sebagai berikut:

 Artikel dan kata sifat dalam Dativ




Bestimmter Artikel
Unbestimmter Artikel
Possessivartikel (ihr..)
Kein Artikel
Maskulin
(männlich)
dem lieben Vater
einem lieben Vater
ihrem lieben Vater
liebem Vater
Feminin
(weiblich)
der lieben Mutter
einer lieben Mutter
ihrer lieben Mutter
lieber Mutter
Neutral
(sächlich)
dem lieben Kind
einem lieben Kind
ihrem lieben Kind
liebem Kind
Plural
(mehrzahl)
den lieben Männern
-
keinen lieben Männern
ihren lieben Männern
lieben Männern


 Kata ganti orang


Personalpronomen
Possessivpronomen
(Begleiter, Ersatz)
maskulin,
neutral
feminin,
Plural
  1. Person Singular
Mir
Meinem
Meiner
Meinen
  1. Person Singular (informal)
Dir
Deinem
Deiner
Deinen


  1. Person singular (m)
Ihm
Seinem
Seiner
Seinen


3. Person Singular (f)
Ihr
Ihrem
Ihrer
Ihren

3. Person Singular (n)
Ihm
Seinem
Seiner
Seinen
1. Person Plural
Uns
Unserem
Unserer
Unseren
2. Person Plural
Euch
Eurem
Eurer
Euren
3. Person Plural,
2. Person Singular (formal)
Ihr, Ihr
Ihrem
Ihrer
Ihren


Catatan: Beberapa preposisi dan kata kerja membutuhkan Dativ:

Präpositionen: aus, aus … heraus, außer, bei, dank, gegenüber, mit, nach, seit, von, von … aus, zu, bis zu, zufolge …

Verben: antworten, zuhören, zustimmen, widersprechen, glauben, vertrauen, folgen, helfen, gratulieren, danken, gehorchen, verzeihen, gehören, gefallen, leidtun, wehtun, liegen (+ Präposition + Ort), sitzen (+ Präposition + Ort), stehen (+ Präposition + Ort)

Einige Verben und Präpositionen können im Dativ und im Akkusativ genutzt werden. Der Dativ kommt zum Einsatz, wenn nach einer Position gefragt wird (wo?)

Verben: hängen, stecken
Präpositionen: an, auf, hinter, in, neben, über, unter, vor, zwischen.


 Kasus ke-4: Akkusativ

Akkusativ adalah kasus keempat dalam tata bahasa Jerman.  Akusatif digunakan sesuai dengan preposisi dan kata kerja tertentu.  Objek kalimat dapat ditemukan dalam Akkusativ (Objek Akkusativ).  Hal ini juga disebut sebagai Kasus IV atau Kasus "Wen".  Dativ dan Akkusativ sebagian identik.

Hal itu bisa ditentukan dengan pertanyaan "oleh siapa atau apa?".  Untuk ini kami memilih kata benda dari kalimat apa pun dan mencoba menanyakannya "oleh siapa / apa".  Jika ini berhasil, maka kata benda dalam Kasus IV.

Das Mädchen sucht ihren Bruder.
Wen oder was sucht das Mädchen? Ihren Bruder!


Jika ada kata benda dalam Akkusativ, elemen kalimat terkait harus dideklinasi.  Kata sandang (artikel) dan kata ganti beradaptasi dengan kata benda dalam akusatif sebagai berikut:

 Artikel dan kata sifat dalam Akkusativ




Bestimmter Artikel
Unbestimmter Artikel
Possessivartikel (ihr..)
Kein Artikel
Maskulin
(männlich)
den lieben Vater
einen lieben Vater
ihren lieben Vater
lieben Vater
Feminin
(weiblich)
die liebe Mutter
eine liebe Mutter
ihre liebe Mutter
liebe Mutter
Neutral
(sächlich)
das liebe Kind
ein liebes Kind
ihr liebes Kind
liebes Kind
Plural
(mehrzahl)
die lieben Männer
-
keine lieben Männer
ihre lieben Männer
liebe Männer






Personalpronomen
Possessivpronomen
(Begleiter, Ersatz)
maskulin,
neutral
feminin, plural
1.  Singular
Mich
Meinen
Mein
Meine
2. Person Singular (informal)
Dich
Deinen
Dein
Deine


3. Person singular (m)
Ihn
Seinen
Sein
Seine


3. Person Singular (f)
Sie
Ihren
Ihr
Ihre

3. Person Singular (n)
Es
Seinen
Sein
Seine
1. Person Plural
Uns
Unseren
Unser
Unsere
2. Person Plural
Euch
Euren
Euer
Eure
3. Person Plural,
2. Person Singular (formal)
Sie, Sie
Ihren
Ihr
Ihre


Beberapa ungkapan dalam Akkusativ:


Catatan: Beberapa preposisi dan kata kerja membutuhkan Akkusativ.

Preposisi: durch, … entlang, für, gegen, ohne, um

Kata kerja: bestellen, besuchen, bezahlen, buchen, essen, haben, besitzen, tragen, kaufen, verkaufen, treffen, kennen, hören, sehen, verstehen, fragen, vergessen, lesen, schreiben, zählen, lernen, trinken, rauchen, verstecken, suchen, finden, legen (+ Präposition), setzen (+ Präposition), stellen (+ Präposition)

Beberapa kata kerja dan preposisi dapat digunakan dalam Dativ dan Akkusativ.  Dalam pengaruh preposisi misalnya, Akkusativ digunakan ketika arah ditanyakan (ke mana?), sedangkan jika ditambahkan dengan Dativ, maka penggunaan pertanyaannya adalah mengenai posisi atau tempat (di mana?).

Kata kerja: hängen, stecken

Preposisi: an, auf, hinter, in, neben, über, unter, vor, zwischen



Urutan kasus dalam bahasa Jerman

Kasus dalam bahasa Jerman tidak dikenakan aturan tetap.  Umumnya, kasus diberikan dalam urutan Nominativ, Genitiv, dativ, dan Akkusativ.  Urutan hasil kasus ini adalah 1, 2, 3 dan 4.  Namun, ada tata bahasa yang mengikuti sistem yang berbeda dan mengatur kasus secara berbeda.

Pada dasarnya, urutan kasus didasarkan pada tata bahasa Latin dan tidak diperbaiki oleh aturan tetap atau sebenarnya sangat kaku.  Ini berarti bahwa rangkaian Nominativ, Genitiv, Dativ, dan Akkusativ hanya didasarkan pada tradisi tata bahasa dan tidak perlu diatur karena masuk akal dalam bahasa Jerman.  Itulah sebabnya ada beberapa tata bahasa yang menyajikannya secara berbeda.

Atau, urutan Nominativ, Akkusativ, Dativ, dan Genitiv biasanya disarankan. Alasan untuk ini adalah bahwa Nominativ dan Akkusativ sering dibentuk hampir identik atau sangat mirip.  Hal ini kontras dengan Genitiv, yang sangat berbeda dari Nominativ.  Urutan kasus ini masuk akal dari sudut pandang teknis.

Nah, setelah mendengar penjelasan tadi, mari kita simpulkan materi kasus ini, ya!
.
.
.

Ada 4 kasus dalam bahasa Jerman.  Mereka ialah Nominativ, Genitiv, Dativ, dan Akkusativ (dalam bahasa lain, misalnya, masih ada yang Vokativ dan Ablativ. Namun, keduanya tidak digunakan dalam bahasa Jerman.).

Keempat kasus tersebut menggambarkan hubungan antara kata benda dengan elemen-elemen lain dari kalimat.  Sebuah kalimat, komponen yang tidak disesuaikan dengan kasus, biasanya tidak dapat dimengerti.

Kata benda, kata sandang (artikel) dan kata ganti disesuaikan dengan kasus masing-masing.  Penyesuaian ini disebut deklinasi.  Akhir daripada masing-masing kata berubah sesuai kebutuhannya.



Das Juwel des Binnenlandes verlieren
ERDBEBENVERLUST

(Von Astina Hotnauli Marpaung)



" Sie sind stolz auf Stealth-Konten. Du Bastard-Korruptor! ""
"Was verärgert Sie?" , nahm, und fragte die mit Brille Frau vorsichtig.
"Sie sind widerlich und schließen das Gewissen von Millionen von Kindern in allen Ecken des Landes, die Schreienden, Hände, die Aufblickenden , Lippen , die sich nicht rühren, Herzen , die von Unwissenheit zerrissen und zerquetscht werden. " Sukma legt ihren Kopf auf den Baum, schließt langsam die Augen und gräbt dann den ganzen Ärger in ihrem Kopf.
"Dann?"
„Dann sprechen sie laut auf dem Bildschirm, mit oder ohne die Medien zu predigen , dass sie Bildung entzerren versuchen, Lehrer Wohlergehen und die Durchsetzung Programme , die vielversprechend aussehen. In der Tat , haben sie das Budget nicht auf das Feld zu gehen verwendet. ""
Die Frau mit Brille tätschelte sanft Sukmas Schulter. "Arbeitest du um sie herum?"
"Richtig. Meine Augen sahen ein Luxusgebäude ohne einen Lehrer, der jeden Tag anwesend sein konnte. Meine Ohren hören einen Führer, der stolz darauf ist, Schulbetriebsmittel zu missbrauchen . H Atiku Schnitt Säge Hunderte von Kindern waren Analphabeten. Aber…."
Sukma sah weg und starrte in den Himmel, während sie die Tränen zurückhielt.
"Aber was?"
"Aber ich bin selbst hilflos. Ich habe keine Macht, mehrere Klassen alleine zu unterrichten . Meine Stimme dort hat keine Wirkung. Ich bin ein Fremder in meiner Geburtsprovinz. Ich fürchte."
"Hast du Angst, abgelehnt zu werden?"
Sukma nickte langsam. Er wurde von Worten gestohlen.
„Das heißt , Ihr Job um eines erhöht wird, das auf der Liebe ist , “ sagte die bebrillte Frau mit funkelnden Augen.
"Ich möchte nicht voreilig sein, diese Liebe zu nennen, aber jeden Tag gibt es einen wütenden Fehler, diese Edelsteine ​​im Landesinneren sofort zu lehren. Wie soll ich diesen Geschmack nennen? Hass und Mitgefühl rennen, wild laufen. ""
"Die Liebe hat dich so weit gebracht, also warte. Die Liebe lehrt dich, schlechte Dinge wie Korruption, blinde Bezahlung und Datenmanipulation zu hassen. Die Liebe trainiert dich, die Analphabeten geduldig und mit endloser Liebe zu umarmen . Es gibt immer jemanden, der jemanden hasst, der ehrlich bei der Arbeit ist. Er möchte, dass Sie scheitern und langsam zurücktreten. S ilahkan frustriert sie nicht mit fortgesetzten Berka r ya für die Ausbildung in Indonesien " , antwortete die Brille der Frau, als er lächelte.
Sukma schwieg. Er seufzte, atmete langsam aus und wiederholte es dann mehrmals. Die Frau mit Brille versuchte die Situation zu verstehen , über die Sukma lange nachdachte.
" Wenn nur" , brach Sukma die Stille.
"Was wäre wenn?"
"Wenn es ein regionales Bildungsbüro gab, das die Region besuchte, die Eignung von Daten und Fakten überprüfte, die Leistung der Mitarbeiter bewertete und ohne Vorwarnung zu jeder Zeit kam, entließ es jeden, der seine Pflichten fahrlässig wahrnahm. M ungkin es wird keine schicken Gebäude geben, die von Kindern bewohnt werden, die Analphabeten sind und keine Ideale haben. "
Die bebrillten Frau zog Sukma Hand, ballte die Faust und sagte dann , „Indonesien braucht eine Ausbildung Absolvent, der so viel Liebe hat wie Sie.“
"Huhhhh. Wenn Sie viele Streifen haben, wird es kein Ende geben. Meine arme Indonesier Bildung, die gebildeten Menschen , die das S.Pd und M.Pd Grad auch das Gesetz über das nationale Bildungssystem als verdienten nicht mehr wert ist als die diplomatischen Worte ihrer sozialen Medien. Jedes Jahr , die geöffnete Regierung die Aufnahme von potenziellen Beamten , und Jedenfalls könnten diese Konten jedes Jahr mit einer leichten Pflege des Umzugs anschwellen , egal wie das Schicksal der Bildung im Dorf bei der Bewerbung gewählt wurde. E gois und nicht nationalistisch , um wegen eines Staatsdieners als wohlhabend angesehen zu werden. "
Sukmas linke Augenbraue hob sich, sie runzelte die Stirn und lächelte finster.
"Sind Sie enttäuscht über den Beamten, der keine Integrität hat?"
"Auch für mich. Enttäuscht , warum ich die CPNS-Prüfung zu diesem Zeitpunkt nicht bestehen konnte. Ich möchte an der Verbesserung des Bildungssystems in diesem Bereich teilnehmen, und eine Möglichkeit zur Verbesserung besteht darin, dass ich in einer Regierungsbehörde sein muss. Ich möchte ein Beamter mit Integrität sein. "
"Du liebst diese Kinder, nicht wahr? Genießt du das Leben im Innenraum? "
"Sehr."
"Darf ich Ihnen eine kleine Antwort und einen Rat geben?"
"Ich brauche es."
"Frau Sukma! T erima Sie für den Kampf für Bildung im Inneren. Heute oder morgen wird vielleicht dein Name vergessen. Du lebst mit all den Einschränkungen mitten im Wald, weit weg von deiner Familie, begrenztem Strom, keinem Internet-Netzwerk, erwartest jeden Tag, dass Regen gekocht wird, damit du trinken, baden und andere Notwendigkeiten zum Fluss bringen, Potluck essen kannst, es ist alles nicht einfach . B uch ich in der Lage zu dürfen. Zu diesem Zeitpunkt kann es sein, dass Sie sich langweilen, weil Sie sich jeden Tag die Sehnsucht nach einer entfernten Familie ersparen, ein Dilemma aufgrund des Alterns, aber Karrieregarantien sind ungewiss . B ven kann jemals in Ihrem Kopf fragen , alles , was Sie für irgendjemanden tun? Der PNS-Lehrer ist in der Tat wohlhabend, und Sie haben es versucht , aber Gott hat nicht anvertraut. Nicht weil dir der Glaube fehlt oder du nicht würdig bist , sondern weil du glaubst, dass Beförderung von Gott kommt. Ich glaube , etwas Großes, ob Karriere oder Liebe, etwas, das Gott für Sie vorbereitet hat, weil Sie aufgestiegen sind. Im Leben geht es nicht um Leistung, sondern um Reise. Ich bin stolz auf dich, ich bin inspiriert von deiner Reise als Pädagoge. Nicht alle Wissenschaftler verwenden ihre Diplome für Indonesien, was sinnvoller ist. Aufmuntern, Sukma! ""
Suk ich weine.
Sukma, eine Inlandslehrerin, die jeden Tag darum kämpft, den Analphabetismus im Land auszurotten , befindet sich an einem Sättigungspunkt, beschuldigt viele Dinge und will viele Dinge. Aber durch seinen Freund, die Frau mit Brille, wurde Sukmas Begeisterung wieder gesteigert. Er beharrte im Inneren und kämpfte , obwohl er keine Unterstützung von Gleichaltrigen bekommen konnte, so dass Laternen für Fernunterricht immer noch leuchten.
"Möchtest du mir noch etwas sagen?" , Die bebrillte Frau starrte Gesicht Sukma der den Tränen vergossen hatte.
"Indonesien hat verloren . Indonesien verliert Bildungswissenschaftler, die das Herz haben zu dienen, Indonesien verliert Diener eines Landes, das das Land liebt , Indonesien verliert Lehrer, die ehrlich wütend sind. Kinder werden Opfer, selbst bis es diejenigen gibt, die Bildung hassen. Ein Kind hat kein Ideal andere als ein bur ist uh oder gewöhnlicher Bauer, durch bewusste Ignoranz kolonisierte von gebildetem Gelehrter. ""
Die Frau mit Brille mischte sich ein : " Verloren ist immer schmerzhaft. Bildung in abgelegenen Teilen Indonesiens schreit schreiend. Indonesien wird sich in diesem Verlust der Traurigkeit nicht auflösen , weil Sie hier sind, um die Indonesier zu unterhalten. "
Sukma stimmt zu.
" Jetzt weiß ich, dass Verlust mich wütend macht."

Über den Autor:
Astina Hotnauli Marpaung, eine Inlandslehrerin in South Nias. Geboren am 14. April 1994 in Demak Bayu, absolvierte die S1 Education Outside School der Riau University.

Herausgegeben von: Linggom Sahat Martua Marpaung

 Apakah "lebah pembunuh" menyebar di Jerman?  Dalam situasi apa pun Anda tidak boleh melakukan ini saat melakukan kontak

Diterjemahkan dari: merkur.de


 Tawon Asia sekarang juga merasa betah di Jerman.  Cari tahu mengapa ini terjadi dan bagaimana Anda harus bersikap di sini.


 Italia, Prancis, dan sekarang juga Jerman: lebah Asia sekarang juga dapat ditemukan di Jerman.


 Dia menyukai iklim hangat - seperti semua spesies lebah dan tawon.  Suhu rata-rata juga meningkat di Jerman, yang membuat negara Eropa Tengah itu menarik bagi spesies serangga asal Asia.


 Cari tahu di sini betapa berbahayanya lebah Asia sebenarnya.




 Pernahkah Anda mendengar tentang "lebah pembunuh"?  Tawon raksasa Asia dijuluki karena mereka membunuh lebah.  Serangga, yang juga dikenal oleh ahli biologi sebagai Vespa mandarinia, saat ini menjadi berita utama di AS sebagai "pembunuh lebah madu" dan juga bisa berbahaya bagi penderita alergi. Lebah raksasa Asia tidak ditemukan di Jerman!  Ini diperkenalkan ke Eropa dan sekarang terasa seperti di rumah sendiri di Spanyol, Italia, Belgia, Inggris Raya, Belanda dan Swiss - dan sekarang juga di Jerman.


 Fakta bahwa serangga muncul di seluruh dunia terutama karena globalisasi *: Orang-orang terhubung ke seluruh dunia melalui lalu lintas dan perdagangan udara dan kapal.  Hewan juga berpindah dari satu benua ke benua lain melalui rute ini - seringkali secara tidak sengaja.  "Tawon Asia mungkin dibawa masuk dengan barang-barang impor Asia," kata pakar NABU, Melanie von Orlow.  Selama perubahan iklim, musim dingin akan lebih sejuk, sehingga spesies eksotik pun dapat membentuk populasi yang stabil di Eropa.  Penyebaran lebah Asia menunjukkan bahwa ia dapat mengatasi iklim Eropa dengan baik dan hanya mengalami sedikit tekanan dari predator atau pesaing, menurut Persatuan Konservasi Alam Jerman (NABU).


 Baca juga: Wabah Tawon: Dengan trik ini Anda akhirnya bisa menyingkirkan para penyiksa.


 Dalam video: AS mempersenjatai diri melawan lebah raksasa Asia



 Tawon Asia tidak lebih agresif atau berbahaya daripada lebah Eropa


 Tawon Asia tidak sendirian dalam hal ini: nyamuk macan Asia, yang dapat menularkan penyakit tropis, juga semakin sering terlihat di Jerman.  “Ternyata nyamuk tersebut berasal dari Italia dan datang ke Jerman sebagai penumpang gelap dengan lalu lintas barang melalui Swiss atau Austria,” kata Profesor Egbert Tannich dari Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine (BNITM) kepada Bavarian Broadcasting Corporation.  Lebah Asia, di sisi lain, biasanya tidak berbahaya bagi manusia.  Makanan dan minuman, misalnya, tidak menarik serangga, itulah sebabnya manusia dan lebah Asia biasanya tidak saling menghalangi.  Juga meyakinkan: lebah Asia tidak lebih agresif atau mengganggu daripada lebah Eropa.


 “Hewan-hewan itu berperilaku damai dan defensif, tetapi bereaksi secara sensitif saat mendekati sarangnya di bawah dua meter.  Sengatannya tidak lebih berbahaya dari pada spesies tawon asli ", kata von Orlov tentang serangga yang membangun sarangnya di puncak pohon jauh dari manusia, dan melanjutkan:" Vespa velutina tidak mungkin menjadi ancaman penting bagi peternakan lebah Eropa, tepatnya  Efek terhadap flora dan fauna asli belum terlihat. ”Saat bersentuhan dengan lebah, penting untuk tetap tenang dan tidak menyerang secara liar.  * Merkur.de adalah bagian dari jaringan editorial Ippen-Digital di seluruh Jerman.

 Bagaimana Jika Sebuah Ide Begitu Berbahaya Itu Bisa Menuju Kerusakan Kekal Anda?


 Pelajaran wacana dari Abad Pertengahan Tinggi



 Kita terbiasa memikirkan "ide berbahaya" sebagai hal yang mungkin ingin ditekan oleh komunitas intelektual, atau pemerintah mungkin ingin menyensor, atau publikasi mungkin ingin mencabut platform (atau secara aktif platform, dalam hal ini), semuanya begitu  bahwa masyarakat tetap aman dari efek gagasan yang konon merugikan.


 Tetapi bagaimana jika kerugiannya bersifat spiritual?  Dan bahaya yang ditimbulkannya tidak terbatas?


 Bagaimana jika sebuah ide begitu berbahaya sehingga akan mengarah pada kutukan abadi bagi jiwa Anda?


 Apa yang akan Anda lakukan dengan ide ini?  Apakah Anda akan mengemasnya, membasmi, menghancurkan setiap penyebutan?  Atau apakah Anda akan memperdebatkannya?


 Ini adalah pertanyaan yang sangat nyata di Eropa pada Abad Pertengahan kira-kira berkisar dari 1050 hingga 1350. Eropa bahkan tidak dipahami sebagai Eropa, tetapi lebih sebagai Susunan Kristen, kumpulan orang dan bangsa yang mengakui ketuhanan Yesus Kristus  melalui Gereja Katolik.  Menolak ajaran dan praktik Gereja, baik melalui ketidakpercayaan atau bid'ah - yaitu, penyimpangan yang disengaja dari ajaran dan praktik Gereja - berarti menerima hukuman.  Oleh karena itu, berbagai penjaga dari Gereja institusional berusaha untuk membatalkan bahkan saran dari ide-ide sesat.  Memang, dalam imajinasi populer, Abad Pertengahan diterangi oleh pria dan wanita yang dibakar bahkan untuk memikirkan pemikiran sesat.


 Dan lagi …


 St. Thomas Aquinas (1225–1274) adalah intelektual terbesar pada Abad Pertengahan dan di zaman modern telah menjadi filsuf resmi Gereja Katolik sejak 1879 Aeterni Patris dari Paus Leo XII.


 “Summa Theologiae” oleh Thomas Aquinas


 Bagian 2 dalam seri Arc: Karya Terbesar Dalam Filsafat




 Aquinas adalah anggota Ordo Para Pengkhotbah (biasanya dikenal sebagai Dominikan), para biarawan yang secara khusus dilatih untuk mengkhotbahkan ortodoksi Kristen dalam menghadapi bid'ah yang terus-menerus di wilayah Eropa di mana agama itu berkembang.  Aquinas sendiri berdiri di ujung rangkaian panjang pemikir yang mempraktikkan dialektika, mencari kebenaran melalui ide-ide yang berlawanan.


 Dia menulis Summa Theologia sebagai ringkasan dari ajaran Kristen, menyelaraskan akal manusia dan wahyu Kristen.  Ketika kita membuka Summa, kita tidak terlalu jauh sebelum kita membaca yang berikut dari pena Malaikat Tabib,


 Sepertinya Tuhan tidak ada;  karena jika salah satu dari dua pertentangan menjadi tidak terbatas, yang lainnya akan hancur sama sekali.  Tetapi kata “Tuhan” berarti bahwa Dia adalah kebaikan yang tidak terbatas.  Oleh karena itu, jika Tuhan ada, tidak akan ada kejahatan yang dapat ditemukan;  tapi ada kejahatan di dunia.  Oleh karena itu Tuhan tidak ada.


 Ini bukan Ateisme, melainkan salah satu intelektual terbesar dari iman Kristen.  Apa yang kita lihat disini?  Summa, yang dengan cepat ditemukan oleh pembaca modern, bukanlah sekumpulan pernyataan otoritatif atau kesimpulan doktrinal yang mengikat;  sebaliknya, ini disusun sebagai pertanyaan yang diperdebatkan.  Aquinas biasanya akan membuka perkataan, "Sepertinya," dan kemudian menyajikan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Kristen, sebelum kemudian melanjutkan untuk menyangkal argumen ini dalam sebuah balasan.


 Aquinas percaya dalam menemukan kebenaran melalui dialektika ide-ide yang bertentangan.  Tetapi meskipun dia adalah eksponen paling terkenal dari pendekatan ini dari zamannya, dia sebenarnya mengikuti leluhurnya yang telah mengadopsi praktik ini dalam studi mereka sendiri tentang teologi dan hukum Gereja.  Buku teks hukum kanon abad pertengahan (yaitu, hukum Gereja) yang ditulis pada pertengahan abad ke-12, Dekretum Gratianus, lebih tepat diberi judul The Concordance of Discordant Canons dan merupakan upaya untuk menyelesaikan keputusan dewan gereja, jawaban atas banding kepausan  , dan pernyataan otoritatif lainnya dari Gereja Katolik yang tampaknya bertentangan dengan diri mereka sendiri.


 Maju cepat ke tahun 2010-an, ketika media arus utama menemukan apa yang sering disebut pembuatan bir alt-right di / pol / bagian dari papan gambar 4chan yang terkenal (serta lebih banyak subreddit yang menjijikkan).  Puluhan tahun setelah rasisme secara teoritis telah dibuang dari ranah ide yang dapat diterima secara sosial… itu kembali.


 Dengan demikian, opini kiri-tengah arus utama telah diambil alih oleh ketakutan akan ide-ide yang berbahaya dalam konsekuensinya dan menular.  Laki-laki kulit putih muda dianggap sangat rentan terhadap penularan memetik dari supremasi kulit putih dan anti-feminisme: artikel khawatir bahwa "siswa kami dulunya papan tulis kosong - tetapi sekarang mereka datang dengan agenda".  Seorang ibu di Twitter menjelaskan bagaimana dia dengan hati-hati mengkurasi bacaan online putranya untuk memastikan bahwa dia tidak terkontaminasi intelektual.


 Sebagian besar telah menjadi "kebisingan latar belakang" - sampai peristiwa seputar pembunuhan George Floyd dan pecahnya protes besar-besaran di seluruh AS dan bahkan dunia.  Dengan latar belakang ini, The New York Times menerbitkan "op-ed"o Senator Tom Cotton yang menyerukan penggunaan kekerasan untuk menekan protes ini (atau untuk menekan penjarahan di sekitar protes ini, tergantung pada pembacaan "op-ed").  Ruang redaksi meletus menjadi kontroversi mengenai apakah penerbitan opini semacam itu tidak bertanggung jawab dan berbahaya.


 Apakah ada ide yang terlalu berbahaya?


 Seorang pelajar abad pertengahan akan menganggap bidah berbahaya bagi tubuh dan jiwa.  Seorang liberal modern percaya bahwa supremasi kulit putih benar-benar beracun bagi berfungsinya masyarakat multi-ras.  Analogi antara keduanya tampak kuat.  Tetapi menilai suatu ide berbahaya hanyalah sebagian darinya - pertanyaan sebenarnya adalah apa yang kemudian harus kita lakukan dengan ide-ide itu.


 Apakah Kekristenan Injili Memiliki Kesinambungan dengan Agama Katolik Abad Pertengahan?



 Haruskah kita, seperti yang disarankan oleh berbagai tokoh yang terkait dengan Web Gelap Intelektual, mengungkap ide-ide beracun melalui debat.  Apakah ini cara untuk pergi?


 Memang menggoda, namun pengalaman menyedihkan menunjukkan bahwa forum di mana “semua orang diterima, bahkan rasis” dengan cepat menjadi forum bagi rasis.  Dapat diperdebatkan dengan tingkat keadilan tertentu bahwa pendukung supremasi kulit putih bergerak di bawah kamuflase kebebasan berbicara, dan bahwa konsekuensi historis yang diketahui dari supremasi kulit putih terlalu aneh untuk memungkinkannya mendapat tempat dalam masyarakat yang sopan.  Seseorang seharusnya tidak lagi mengizinkan diskusi tentang hierarki rasial dalam masyarakat yang sopan daripada membiarkan diskusi tentang manfaat pedofilia.


 Bagaimana seseorang menangani ide yang isinya berbahaya bagi masyarakat yang berfungsi, adil, dan multiras?  Mungkin jawabannya terletak pada pertikaian abad pertengahan.


 Para biarawan Dominika diperingatkan untuk tidak mendebatkan bidah di depan umum.  Bagaimanapun, tempat seperti itu memungkinkan bidah menyebar.  Tetapi ketika mereka mempelajari doktrin Kristen, mereka melakukannya dalam konteks sekolah di mana ortodoksi Kristen (yaitu, pengajaran yang benar) diasumsikan.


 Dengan latar belakang seperti itu, seorang frater berlatih dalam menentukan suatu pertanyaan, mengambil posisi dalam debat, dan kemudian mempertahankannya.  Memang, siswa akan diminta untuk memperdebatkan kedua sisi pertanyaan, bukan karena pengertian nihilistik bahwa tidak ada yang benar-benar dapat mengetahui kebenaran, tetapi karena keinginan untuk mengajar para pengkhotbah ortodoksi untuk memahami dengan tepat apa yang dipikirkan oleh bidat dan orang yang tidak beriman.  Karena ajaran bidat mengancam jiwa, penting untuk memahami ajaran ini, tidak peduli betapa berbahayanya ajaran itu.  Untuk mengkhotbahkan ortodoksi, seseorang perlu mengetahui apa yang menjadi keberatan para bidat terhadap ajaran ortodoks.


 Apa artinya ini bagi masyarakat multi-ras?  Mungkin mendeklarasikan sebuah ide yang tidak dapat diterima secara sosial itu perlu tetapi tidak cukup.  Mungkin dalam batas-batas lingkungan di mana sebuah ide diketahui berbahaya, mereka yang berusaha mencari kebenaran mungkin melakukannya melalui kesalahan.  Ini akan sulit, karena akan menuntut orang untuk menggali sekumpulan fakta dan asumsi alternatif, untuk memisahkannya, dan menemukan bukan hanya bahwa mereka salah, tetapi mengapa mereka salah.  Apakah ini solusinya?  Mungkin.


 Tapi kemudian, para biarawan Dominika tidak pernah bisa membasmi bidah di Prancis selatan dengan berkhotbah.  Hanya setelah puluhan tahun kekerasan berkelanjutan terhadap bidah dan mereka yang melindungi mereka, ide-ide mematikan itu hancur.  Mungkin pelajarannya adalah bahwa ide-ide buruk hanya bisa dihadapi dengan kekuatan yang luar biasa.


 Saya telah mengajukan pertanyaan ini, tetapi saya belum, dalam bahasa pengantar sekolah abad pertengahan, menyampaikan tekad itu.

CATEGORY


A1.1

A1.2

A2.1

A2.2

B1.1

Comments