Herzlich Wilkommen
PENDAFTARAN KELAS GRATIS DEUTSCHE FREUNDE "TELAH DITUTUP"
Komparation mit wie und als
Wie
Wenn zwei oder mehr Personen oder Sachen in einem Vergleich gleich sind, verwendet man den Positiv und die Vergleichswörter „so wie“, die man mit genau betonen kann.
Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro) und den USA (860 Euro)
1. Das Leben in Deutschland ist so teuer wie in den USA.
2. Peter studiert Spanisch genauso lang wie Alexander.
3. Die Leute in Deutschland ist so freundlich wie in Italien.
4. Herr Antrim ist so lang in Polen wie in Kanada.
5. Frau Schmidt fühlt sich so gut in Hamburg wie in Berlin.
Als
Der Komparativ wird mit dem Vergleichswort als benutzt.
Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro), Kanada (700 Euro), Frankreich (918 Euro)
1. Das Leben in Kanada ist teurer als in Deutschland.
2. Das Leben in Frankreich ist teurer als in Kanada.
3. Tom studiert in Deutschland länger als Martin.
4. Martin Studiert Deutschland länger als Peter.
5. Tobias lebt Deutschland länger als ich.
Superlativ
Superlativ ist die höchste Steigerungsform von Wortart. Superlativ vergleicht ein Ding mit mehreren Dingen und bildet die höchste Stufe.
Beispiel: Das Leben in Deutschland (860 Euro), Kanada (700 Euro), Frankreich (918 Euro)
1. Das Leben in Kanada ist teurer als in Deutschland, aber in Frankreich ist am teuersten.
2. Die Wohnungsmiete in Kanada ist höher als in Deutschland, aber in Frankreich ist am höchsten.
3. Johan geht ins Museum öfter als ins Theater, aber in die Oper ist am öftesten.
4. Bella lernt Deutsch mehr als Spanisch, aber sie lernt am meisten Polnisch.
5. Matthias studiert länger in Dortmund als in Frankfurt, aber er studiert am längsten in Berlin.
Nebensatz mit weil
Ein Hauptsatz muss mindestens aus einem Subjekt und einem konjugierten Verb bestehen. Inhaltlich und grammatisch ist er vollständig und kann deshalb alleine stehen. Ein Nebensatz kann normalerweise nicht allein stehen. Er hängt von einem übergeordneten Hauptsatz oder einem Nebensatz ab. Dazwischen steht ein Komma. Das konjugierte Verb steht in einem Nebensatz meistens ganz am Ende. Der Nebensatz wird durch bestimmte einleitende Wörter mit dem übergeordneten Satz verbunden. Eines von einleitenden Wörtern ist die Konjunktion weil. Ein mit „weil“ beginnter Nebensatz antwortet auf die Frage „Warum?“. Mit den Fragewörtern „warum, wieso oder weshalb“ fragt man nach einem Grund.
Beispiele von weil-Sätzen:
- mit Vollverben:
Konjugiertes Verb steht am Ende des Nebensatzes.
1. Petra macht eine Ausbildung zur Verkäuferin, weil sie gerne mit Menschen arbeitet.
2. Oky lernt Deutsch, weil er in Deutschland studieren möchte.
3. Viele Chinesen lernen English, weil es für Arbeit wichtig ist.
4. Spanisch sprechen sie, weil sie schon lange in Spanien gelebt haben.
5. Herr Marpaung hat Germanistik studiert, weil er sich sehr für deutsche Literatur und Geschichte interessiert.
- mit Modalverben:
Konjugiertes Modalverb steht am Ende hinter dem Infinitiv.
1. Matthias fliegt nächste Woche nach Deutschland, weil er noch sein Studium beschliessen muss.
2. Lena lebt in Deutschland, weil sie da eine Journalistin werden will.
3. Tobias ist nach Italien geflogen, weil er noch sein Italienisch verbessern muss.
4. Danu und ich brauchen zwei Fremdsprachen im Studium, weil wir gute Note erhalten mögen.
5. Sonia ist eine Studentin in Deutschland, weil sie ihr Deutschkenntnis direkt lernen mag.
Oleh: Astina Hotnauli Marpaung, S.Pd.
Seorang Guru Pedalaman di Yayasan Tangan Pengharapan.
Seorang staf pendidikan YTP pernah menantang saya demikian "mengapa harus Papua kak Tin? Bukankah semua anak sama berharganya di mata kakak?" Kalimat tersebut menampar sekaligus menguatkan saya yang sebelumnya harusnya ditempatkan di FLC Goni, Nabire, Papua. Ingin rasanya saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Pemkab Nabire yang telah melakukan lockdown dalam upaya mencegah penularan covid 19, sehingga saya batal ke Papua yang sedari dulu saya mimpikan dan kemudian kalimat semua anak sama berharganya membawa saya ke FLC Tunis, TTS, NTT. Sebuah center baru, tantangan baru bagi saya karena untuk pertama kalinya berdiri PAUD di desa ini sekaligus untuk pertama kalinya saya mengajar maupun merintis PAUD.
September 2020, musim kering di TTS. Tak mengapa tanahnya kering, yang penting SDM nya semakin tumbuh subur, minimal selama setahun saya disini, mereka tidak lagi menjual buah Pisang dari kebun untuk membeli goreng Pisang, itu awalnya pola pikir yang sangat ingin saya ubah melalui pendidikan. Ini bulan pertama saya mengajar disini. Kelas krik-krik baru saja dimulai. Tiap malam saya berlatih di depan kaca, belajar senyum lebar, bagaimana caranya ekspresif dan menyenangkan di depan anak-anak PAUD dan tiap pagi pula saya seperti berbicara maupun tertawa sendiri di hadapan anak-anak karena tidak ada timbal balik. Mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan, saya terlebih lagi tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mirip-mirip bahasa Arab kedengarannya. Sebuah speaker murahan yang dipesan online ketika di Jakarta akhirnya menempatkan posisinya untuk mencuri hati anak-anak. Saya si badan kaku ini mulai berani mempermalukan diri sendiri di hadapan anak-anak dan orang tua untuk berjoget diiringi musik untuk anak-anak. Seminggu mengajar belum membuahkan hasil, saya masih berjoget sendiri, berbicara sendiri, tepuk tangan sendiri, berdoa sendiri, mengucapkan selamat pagi lalu menjawabnya kembali sendiri, bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri.
Keterbatasan fasilitas dan media pembelajaran membuat saya berpikir keras setiap hari besoknya harus mengajar apa dan bagaimana supaya anak-anak cepat menangkap. Ibarat bola menggelinding, ide-ide, mimpi-mimpi dan metode mengajar bergulir di benak, bertambah banyak dan konsep pun terbentuk, tinggal eksekusi. Pohon kering yang sudah mati jadi media belajar, tiba-tiba saya jadi pelukis yang handal, tiba-tiba jadi pencipta lagu sekaligus penyanyi yang percaya dirinya luar biasa melebihi idol, tiba-tiba menjadi dancer, tiba-tiba menjadi bidan padahal dari dulu sangat takut dengan darah, tiba-tiba jadi sosok yang tidak jijik lagi dengan kotoran di hidung dan seluruh badan anak.
Sejak merintis PAUD disini, partner saya pun heran melihat saya ternyata memiliki banyak talenta yang selama ini tidak pernah ia lihat di Nias ketika kami berpartner. Jangankan dia, saya pun heran melihat diri saya sendiri bisa menggambar, mendesain dan melukis. Yang pasti adalah, merintis ini memulai dari nol, masih bibit, belum tahu apakah semua bibit ini akan tumbuh dan berbuah sehingga menghasilkan panen yang baik atau hanya beberapa bibit saja yang berhasil? Guru yang baik adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar, guru yang memandang dirinya berharga kemudian bisa memandang bahwa semua anak itu berharga. Guru yang baik tahu bagaimana ia menanam, menyiram meski bukan ia yang nantinya memanen.
3 minggu sudah menjadi guru PAUD di FLC Tunis, niat yang baik telah teruji, saya sudah melihat tunas. Tunas-tunas bangsa. Setiap hari saya mengajar di hadapan calon menteri, calon bupati, calon gubernur, calon anggota dewan, calon polisi, calon dokter dan lain sebagainya. Jujur, saya grogi berdiri di hadapan orang-orang hebat ini. Akhirnya, bibit itu bertunas. Anak-anak sudah pandai senam, cerewet menyapa guru, mampu memegang pensil dengan benar, mampu mengulang kata yang diucapkan oleh guru, tidak lagi menangis harus ada mama di samping baru mau belajar, tidak lagi harus disogok jajan oleh mama baru mau sekolah dan yang penting adalah perlahan bisa berbahasa Indonesia.
Saya Astina, selama ini saya menghindar jadi guru PAUD, ketakutan besar di dalam diri saya selalu berkata TIDAK BISA. Tetapi hari ini, sampai tulisan ini selesai, anak-anak yang sangat berharga dan saya kasihi ini seolah berkata, tunas ini akan berbuah manis dan dinikmati banyak orang. Sepotong es krim, apresiasi untuk diri saya yang mengalahkan ketakutan dan mau belajar menjadi bisa. NTT, how wonderfull it is.
Belajar secara pasif berarti meningkatkan keterampilan bahasa Anda, tetapi tidak harus duduk di depan meja Anda. Anda dapat mengenal orang baru, menemukan motivasi lagi, dan membuat kemajuan lebih cepat.
Tapi apa yang dimaksud dengan pembelajaran aktif dan pasif?
Pembelajaran aktif berarti Anda terlibat penuh. Jadi Anda sangat terkonsentrasi dan melakukan tugas secara sadar.
Sebaliknya, belajar secara pasif berarti membiarkan sesuatu terjadi pada Anda. Meskipun Anda merasakan sesuatu - bisa dikatakan, biarkan itu bekerja pada Anda - Anda memiliki tugas lain yang terutama Anda lakukan.
Jika Anda belajar secara pasif, Anda akan belajar lebih banyak "di samping".
Tapi bukan berarti hanya butuh setengahnya. Sebaliknya: jika Anda belajar banyak secara pasif, Anda akan meningkatkan keterampilan bahasa Anda lebih cepat karena Anda terutama merasakan bahasanya.
Cara Belajar Secara Pasif
# 1 Dengarkan musik atau teks!
Buku musik atau audio kebanyakan dimainkan di samping. Anda dapat membersihkan apartemen atau menyiapkan makan malam pada saat bersamaan, tetapi Anda juga dapat mengelilingi diri Anda dengan belajar bahasa Anda di dalam mobil, sambil berolahraga atau bersantai di bak mandi. Meskipun Anda terutama melakukan tugas yang berbeda, Anda mengambil kata-kata individual yang membantu Anda memahami bahasanya. Anda juga akan meningkatkan pelafalan karena Anda akan selalu mendengar kata-katanya dengan benar.
Tentunya Anda juga bisa aktif mendengarkan musik atau lirik. Untuk melakukan ini, Anda cukup membaca bersama dengan apa yang Anda dengar. Jadi Anda bisa melihat kata-kata dan berurusan langsung dengan apa yang sedang ditulis. Namun pembelajaran aktif disini membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan konsentrasi penuh. Pembelajaran pasif, di sisi lain, bekerja bahkan setelah hari yang melelahkan di kantor.
# 2 Masak dengan buku masak atau resep bahasa asing!
Apakah ada yang lebih baik dari makanan enak? Mungkin tidak. Dan tubuh serta pikiran Anda akan berterima kasih juga jika Anda lebih sering memasak makanan segar. Untuk melakukan sesuatu untuk keterampilan bahasa Anda di sini juga dan dengan demikian untuk belajar secara pasif, Anda dapat menggunakan buku masak atau resep (misalnya dari Internet) dalam pembelajaran bahasa Anda. Dengan cara ini Anda akan mempelajari kata-kata baru, menemukan budayanya, dan mengenal berbagai jenis teks pada saat yang bersamaan.
# 3 Pergi ke kumpul-kumpul (internasional)!
Temukan tabel pelanggan tetap yang hanya menggunakan bahasa pembelajaran Anda. Jadi, Anda dapat bertemu orang baru dan meningkatkan keterampilan bahasa Anda pada saat yang bersamaan. Seringkali ada juga penutur asli di meja bundar seperti itu, sehingga Anda juga memiliki kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang yang tumbuh dengan bahasa ini.
Jika belum ada tabel tetap untuk bahasa pembelajaran Anda, Anda juga dapat membuatnya sendiri. Peserta didik lain pasti akan senang juga!
# 4 menulis surat!
Tentu saja, Anda tidak hanya harus menulis surat, Anda juga dapat beralih ke versi modern: email. Anda dapat bertemu orang baru, mempelajari budaya baru, dan pada saat yang sama meningkatkan keterampilan bahasa Anda - terutama dalam menulis.
Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang surat atau email dan terlibat secara aktif dengannya, Anda dapat meminta sahabat pena Anda untuk mengoreksi teks Anda. Jadi, Anda dapat mengatasi kesalahan Anda sendiri dan menggunakannya untuk pembelajaran Anda.
# 5 Alihkan ponsel Anda ke bahasa pembelajaran Anda!
Saat ini hampir tidak ada orang yang tidak memiliki smartphone. Dan jika Anda berpikir tentang seberapa sering Anda memegang tangan Anda hari ini, Anda mungkin akan terkejut pada awalnya. Tapi itulah dasar terbaik untuk menggunakan ponsel cerdas Anda untuk belajar. Ubah bahasa dan mulailah pengalaman baru.
Jika Anda ingin membuatnya lambat, Anda juga dapat membuat keyboard terpisah untuk setiap bahasa (biasanya Anda dapat menentukan ini di pengaturan). Ini sangat membantu jika Anda juga menulis dalam bahasa pembelajaran Anda di ponsel cerdas.
# 6 Kelilingi diri Anda dengan bahasa!
Ini mungkin poin terpenting yang datang kepada Anda dalam pembelajaran pasif. Kelilingi diri Anda dengan bahasa tersebut sesering mungkin. Integrasikan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari Anda dan cobalah membangun kehidupan untuk diri Anda sendiri yang tidak mungkin lagi tanpa bahasa asing.
„Modalverb“ dalam Tata Bahasa Jerman
Kata kerja modal (Modalverb) dalam bahasa Jerman adalah dürfen (diperbolehkan untuk / mungkin) , kann (dapat) , mögen (menyukai / mungkin) , müssen (harus) , sollen (seharusnya) dan wollen (ingin). Kata kerja modal mengungkapkan kemampuan, kebutuhan, kewajiban, izin atau kemungkinan.
Kuasai aturan untuk mengkonjugasikan kata kerja modal dan dapatkan tips tentang bagaimana dan kapan menggunakannya dalam bahasa Jerman. Dalam latihan, kalian bisa mempraktikkan apa yang telah kalian pelajari.
Contoh:
Max will Automechaniker werden. Dafür muss er viel über Autos wissen. Sein Vater soll ihm alles erklären. In der Werkstatt darf Max seinem Vater helfen. Max kann sogar schon Reifen wechseln.
Pemakaian
Kita biasanya menggunakan kata kerja modal dengan infinitif dari kata kerja penuh. Arti kalimat dapat berubah tergantung pada kata kerja modal yang kita gunakan.
Contoh :
Max will/darf/soll Automechaniker werden.
Max ingin / mungkin / harus menjadi montir mobil.
Jika kata kerja lengkap diasumsikan dari konteksnya, kita sering mengabaikannya dalam percakapan sehari-hari.
Contoh :
Kannst du Deutsch (sprechen)?
Apakah kamu bisa berbicara bahasa Jerman)?
Willst du eine Pizza (essen)?
Apakah Anda ingin (makan) pizza?
Ich darf das (machen).
Saya diizinkan untuk melakukan itu).
Konjugasi dari Modalverb Bahasa Jerman
Untuk mengkonjugasikan kata kerja modal di masa sekarang dan masa lalu , kita menggunakan bentuk konjugasi dari kata kerja modal sesuai subjeknya. Namun, untuk mengkonjugasikan kata kerja modal dalam bentuk Perfekt , kita menggunakan bentuk infinitive dari Modalverb dan kata kerja penuh, serta kata kerja terkonjugasi pada kata kerja bantunya (haben/sein).
| Präsens | Präteritum | Perfekt |
| Er kann tanzen. Dia bisa menari . | Er konnte tanzen. Dia bisa menari . | Er hat tanzen können. Dia telah bisa menari . |
| Du musst schlafen. Kamu harus tidur . | Du musstest schlafen. Kamu harus tidur . | Du hast schlafen müssen. Kamu telah harus tidur . |
Kita hanya menggunakan Partizip II pada kata kerja modal di bentuk Perfekt dan Plusquamperfekt dalam kalimat yang tanpa memiliki kata kerja penuh .
Contoh :
Das habe/hatte ich nicht gewollt.
Saya tidak / saya tidak menginginkan itu.
Tabel Konjugasi
Tabel berikut menunjukkan konjugasi kata kerja modal dalam bentuk sekarang dan bentuk lampau serta konjugasi kata kerja untuk Perfekt dan Konjunktiv II .
| müssen | können | dürfen | sollen | wollen | mögen* | möchten** | ||||||
| present | ||||||||||||
| ich | muss | kann | darf | soll | will | mag | möchte | |||||
| du | musst | kannst | darfst | sollst | willst | magst | möchtest | |||||
| er/sie/es/man | muss | kann | darf | soll | will | mag | möchte | |||||
| wir | müssen | können | dürfen | sollen | wollen | mögen | möchten | |||||
| ihr | müsst | könnt | dürft | sollt | wollt | mögt | möchtet | |||||
| sie/Sie | müssen | können | dürfen | sollen | wollen | mögen | möchten | |||||
| simple past | ||||||||||||
| ich | musste | konnte | durfte | sollte | wollte | mochte | wollte | |||||
| du | musstest | konntest | durftest | solltest | wolltest | mochtest | wolltest | |||||
| er/sie/es/man | musste | konnte | durfte | sollte | wollte | mochte | wollte | |||||
| wir | mussten | konnten | durften | sollten | wollten | mochten | wollten | |||||
| ihr | musstet | konntet | durftet | solltet | wolltet | mochtet | wolltet | |||||
| sie/Sie | mussten | konnten | durften | sollten | wollten | mochten | wollten | |||||
| past participle | ||||||||||||
| gemusst | gekonnt | gedurft | gesollt | gewollt | gemocht | gewollt | ||||||
| subjunctive II | ||||||||||||
| müsste | könnte | dürfte | sollte | wollte | möchte | |||||||
| | | | | | | | | |||||
* mögen biasanya digunakan tanpa kata kerja penuh saat ini - Aku menyukaimu
** möchten sebenarnya adalah bentuk subjungtif/Konjunktiv II dari mögen, tetapi sekarang ini digunakan dalam bentuk sekarang sebagai kata kerja modal yang terpisah (untuk bentuk lampau, kami menggunakan wollen ).
Ada kalanya kita tidak sepenuhnya memahami maksud yang sudah disampaikan oleh lawan bicara kita. Keadaan seperti itu biasanya membuat kita ingin menanyakan kembali maksud si lawan bicara. Namun bagaimanakah cara menyampaikan kalimat dalam meminta seseorang dalam mengulang kembali atau menjelaskan kembali maksudnya? Terkadang kita menyampaikan dengan mengartikan kata-kata dalam Bahasa Indonesia secara kata per kata ke dalam Bahasa Jerman. Tidak salah memang. Setidaknya itu bisa dicerna oleh orang berbahasa Jerman. Tapi ada beberapa kalimat yang biasa dan cocok disamapaikan dalam bahasa Jerman terkain meminta pengulangan maksud daripada lawan bicara. Apa itu? Ini dia:
Entschuldigung, wie bitte? (Maaf, bagaimana tadi?)
Können Sie das bitte buchstabieren? (Dapatkah Anda mengejanya?)
Das verstehe ich nicht. Können Sie das bitte wiederholen? (Saya tidak mengerti. Dapatkah Anda mengulanginya?)
Können Sie das bitte anschreiben? (Dapatkah Anda menuliskannya?)
Was ist das auf Deutsch? (Apa itu dalam bahasa Jerman?)
Wie heiβt das auf Deutsch?(Apa namanya dalam bahasa Jerman?)
Wie heiβt … auf Deutsch? (Apa nama … dalam bahasa Jerman?)
ab
abfahren, abfliegen, abfragen, abgeben, abgewöhnen, abholen, ablesen, abmachen, abnehmen, absagen, abschalten, abschicken, abschließen, abstellen, abstimmen, abtrocknen, abwarten, abwechseln
an
anbieten, anfangen, anfassen, angeben, angehen, angewöhnen, angreifen, angucken, anhaben, anklopfen, ankommen, anlassen, anmachen, anmalen, anmelden, annehmen, anprobieren, anrufen, anschalten, anschauen, ansehen, ansprechen, anstehen, ansteigen, anwachsen, anwenden, anzeigen, anziehen
auf
aufatmen, aufbauen, aufbleiben, aufblicken, aufessen, auffordern, aufführen, aufgeben, aufgehen, aufhaben, aufhalten, aufhängen, aufheben, aufklären, auflassen, aufmachen, aufräumen, aufregen, aufschreiben, aufstehen, auftauchen, auftreten, aufwachen, aufwachsen, aufwecken, aufwischen
aus
ausatmen, ausbilden, ausbleiben, ausdenken, ausdrucken, ausfallen, ausfragen, ausgeben, ausgehen, auskennen, auslachen, ausleben, ausleihen, ausliegen, auslosen, ausmachen, ausmalen, ausnutzen, ausräumen, ausruhen, ausschalten, ausschlafen, ausschließen, ausschneiden, aussehen, aussprechen, aussteigen, ausstellen, austauschen, austeilen, austrinken, auswählen, auswandern, auswirken, ausziehen
auseinander
auseinanderfallen, auseinanderleben, auseinandersetzen
bei
beibringen, beiliegen, beisetzen, beitragen, beitreten
da
dableiben, dalassen, daliegen, dasitzen, dastehen
dar
darbieten, darlegen, darstellen
ein
einatmen, einbrechen, einchecken, eincremen, eingreifen, einhalten, einkaufen, einladen, einloggen, einpacken, einräumen, einschlafen, einsteigen, eintauchen, eintragen, einziehen
empor
emporfliegen, emporklettern, emporschauen
entgegen
entgegengehen, entgegenfahren, entgegenkommen, entgegennehmen, entgegentreten
entlang
entlangfahren, entlangführen, entlanggehen, entlangkommen, entlanglaufen
entzwei
entzweibrechen, entzweigehen
fehl
fehlinterpretieren, fehlschlagen
fern
fernbleiben, fernsehen, fernsteuern
fest
festbinden, festdrücken, festkleben, festknoten, festlegen, festliegen, feststellen
fort
fortbilden, fortbleiben, fortdauern, fortfahren, fortführen, fortkommen, fortlaufen, fortnehmen, fortrennen, fortschicken, fortschreiten, fortziehen
frei
freigeben (frei geben), freihaben (frei haben), freihalten (frei halten), freilassen (frei lassen), freimachen (frei machen), freinehmen (frei nehmen), freisprechen (frei sprechen)
Achtung: Manchmal ändert sich durch Getrennt- oder Zusammenschreibung die Bedeutung.
gegen
gegenhalten, gegenlesen, gegenrechnen, gegenzeichnen
gegenüber
gegenüberliegen, gegenübersetzen, gegenübersitzen, gegenüberstehen, gegenüberstellen, gegenübertreten
heim
heimbringen, heimfahren, heimfinden, heimliegen, heimgehen, heimkehren, heimkommen, heimreisen, heimschicken
her
herbitten, herbringen, hereilen, herfahren, herfinden, herholen, herkommen, herkriegen, hernehmen, herrufen, herschauen, herstellen,
hin
hinblicken, hinbringen, hinfahren, hinfallen, hinfliegen, hingehen, hingucken, hinhauen, hinhören, hinknien, hinkommen, hinkriegen, hinlaufen, hinnehmen, hinrennen, hinschicken, hinschmeißen, hinsehen, hinsetzen, hintragen, hinweisen, hinwerfen, hinziehen
hinterher
hinterherfahren, hinterhergehen, hinterhergucken, hinterherlaufen, hinterherschauen,
hoch
hochblicken, hochfahren, hochfliegen, hochgehen, hochhalten, hochheben, hochklettern, hochkommen, hochnehmen, hochschauen, hochsehen, hochspringen, hochsteigen, hochstellen, hochwerfen, hochziehen
inne
innehaben, innehalten, innewohnen
los
losbinden, losfahren, losfliegen, losgehen, loskommen, loslassen, loslaufen, losmachen, losrennen, losschicken, loswerden
mit
mitarbeiten, mitbringen, mitdenken, mitessen, mitfahren, mitfühlen, mitgeben, mitgehen, mithaben, mithelfen, mitkommen, mitkriegen, mitlesen, mitmachen, mitnehmen, mitreden, mitreisen, mitschreiben, mitsingen, mitspielen
nach
nachahmen, nachbessern, nachdenken, nachfahren, nachfeiern, nachfolgen, nachforschen, nachfragen, nachfüllen, nachgeben, nachgehen, nachgucken, nachholen, nachkommen, nachlassen, nachlaufen, nachlesen, nachmachen, nachprüfen, nachrennen, nachrufen, nachschauen, nachschlagen, nachsehen, nachsitzen, nachspielen, nachsprechen, nachsuchen
neben
nebenordnen, nebenschalten
nieder
niederbrennen, niederbrüllen, niedergehen, niederknien, niedermachen, niederschlagen, niederschreiben,
rück
rückdatieren, rückfragen, rückspulen
statt
stattfinden, stattgeben
teil
teilhaben, teilnehmen
vor
vorfahren, vorfinden, vorführen, vorgeben, vorgehen, vorhaben, vorherrschen, vorkommen, vorlesen, vormachen, vornehmen, vorschlagen, vorschreiben, vorsehen, vortragen, vorziehen
weg
wegbleiben, wegblicken, wegbringen, wegdrücken, wegfahren, wegfallen, wegfliegen, weggeben, weggehen, weggucken, weglassen, weglaufen, weglegen, wegmachen, wegnehmen, wegräumen, wegrennen, wegschauen, wegschicken, wegschmeißen, wegsehen, wegsetzen, wegstellen, wegtragen, wegtun, wegwerfen, wegziehen
weiter
weiterarbeiten, weiterbringen, weiteressen, weiterfahren, weiterführen, weitergeben, weitergehen, weiterhelfen, weiterkommen, weiterleben, weitermachen, weiterreden, weitersagen, weiterschlafen, weitersehen, weiterspielen, weitersprechen, weitersuchen
wett
wettlaufen, wettmachen, wettstreiten
zu
zubinden, zudecken, zudrehen, zudrücken, zufassen, zugehen, zugreifen, zugucken, zuhaben, zuhalten, zuhören, zuknoten, zulassen, zumachen, zunehmen, zuordnen, zurufen, zusagen, zuschauen, zuschicken, zuschließen, zusehen, zusenden, zusperren, zustimmen, zustoßen
zurecht
zurechtfinden, zurechtkommen, zurechtmachen, zurechtweisen
zurück
zurückblättern, zurückbleiben, zurückblicken, zurückbringen, zurückfahren, zurückfliegen, zurückgeben, zurückgehen, zurückkehren, zurückkommen, zurücklassen, zurückmelden, zurücknehmen, zurückreisen, zurückrufen, zurückschicken, zurückschreiben, zurücksehen, zurücktragen, zurücktreten
zusammen
zusammenarbeiten, zusammenbauen, zusammenbinden, zusammenbleiben, zusammenbrechen, zusammenbringen, zusammendrücken, zusammenfalten, zusammengehören, zusammenhaben, zusammenhängen, zusammenlaufen, zusammenleben, zusammenpassen, zusammenprallen, zusammenschlagen, zusammenschließen, zusammenschreiben, zusammensetzen, zusammensitzen, zusammenstellen, zusammenstoßen, zusammenstürzen, zusammentreffen, zusammenwirken
zwischen
zwischenlagern, zwischenlanden, zwischenspeichern
Was ist Selbstheilung?
Übersetzt aus: drmiller.com
Heilen bedeutet, ganzer zu werden, mehr zu erreichen, was Sie erreichen möchten, und Ihr Leben besser zu genießen. Diese Ganzheit kann die Heilung einer physischen Wunde, eine emotionale Störung, ein schlecht angepasstes Verhalten (Wut, Sucht, Schüchternheit) oder Konfliktbeziehungen beinhalten.
Heilung ist ein aktiver, lebendiger Prozess. Sie können lernen, sich selbst zu heilen. Medikamente, Nahrungsergänzungsmittel, Operationen, Bewegung - sie helfen, unterstützen aber nur den Selbstheilungsprozess. Antibiotika können ein Bakterium schwächen, aber nur Ihr Immunsystem kann es tatsächlich töten und loswerden. Studien zeigen, dass das Wichtigste, was Sie tun können, darin besteht, zu lernen, geistige und körperliche Entspannung und Ausgeglichenheit zu schaffen. Zusammen mit geführten Bildern, Meditation, Selbsthypnose und Gebet sind dies sehr wirksame Werkzeuge, um dich gesund zu machen und dich gesund zu halten.
Patient, heile dich
Selbstheilung bezieht sich auf die Dinge, die Sie tun können, damit Ihr inneres System besser funktioniert und Sie schneller und gründlicher heilen. Selbstheilung bedeutet, sich weise zu verhalten, sich auf die wahren Bedürfnisse von Körper, Geist, Seele und Seele einzustellen und kluge Entscheidungen zu treffen - richtig zu essen, richtig zu trainieren und die richtige Menge Schlaf zu bekommen. Lernen Sie dreimal täglich zehn oder zwanzig Minuten lang tiefe Entspannung, wenn Sie noch bessere Ergebnisse erzielen möchten.
Während dieser Zeit konzentrieren Sie sich auf Frieden, Harmonie, Schönheit, Liebe und andere ähnliche Erfahrungen. Meditation, Gebet und andere tiefe Entspannungstechniken helfen Ihnen, Ablenkungen zu beseitigen. Erlaube dir in dieser Zeit, dich vollständig so zu akzeptieren, wie du bist, und die Welt so zu akzeptieren, wie sie in diesem Moment ist - schließlich kann es in diesem Moment nicht anders sein als in diesem Moment!
Fülle deinen Geist mit den Dingen, für die du dankbar bist, dass du sie in deinem Leben fühlen und erleben musst. Danke und fühle die Dankbarkeit in deinem Körper. Stellen Sie sich vor, wie Ihr Körper sich selbst heilt und ganzer und funktioneller wird. Dann stellen Sie sich ganz gut, glücklich und gesund vor. Das ist der Schlüssel zu den Geheimnissen der Selbstheilung! Denken Sie daran, es mehrmals am Tag zu tun.
Selbstheilender Stress
Stress ist ein sehr wichtiger Bestandteil der meisten unserer Krankheiten. Einige verursacht es, andere verschlimmert es. Körperliche Anspannung und mentaler / emotionaler Stress erzeugen ungeordnete (inkohärente) neuronale Impulse in den Nerven und zirkulieren Stresschemikalien im Körper, die zum Beispiel Folgendes verursachen:
Entzündung (Sehnenentzündung, Arthritis, GI-Probleme)
Muskelschmerzen und Funktionsstörungen (Rücken- und Kopfschmerzen, Muskelverspannungen, erhöhter Blutdruck, Kolonstörungen)
Emotionales Ungleichgewicht (Angst, Reizbarkeit, Wut, Depression, Unglück)
Psychische Dysfunktion (geringe Kreativität, Schlaflosigkeit, Aufschub, Aufmerksamkeitsdefizit)
Verhaltensstörungen (Trinken, Rauchen, Essen)
Chronischer Stress über einen langen Zeitraum schrumpft tatsächlich das Gehirn und tötet Millionen von Neuronen
Tief entspannte Zustände bringen das System wieder ins Gleichgewicht. Die meisten Ungleichgewichte und Störungen (Krankheiten, Funktionsstörungen, Symptome oder Krankheiten) werden entweder durch körperliche Anspannung und mentalen / emotionalen Stress verursacht oder verschlimmert. Tiefenentspannung ist das direkte Gegenmittel gegen Stress und wird daher häufig in Selbstheilungstechniken eingesetzt.
Um Ihre Heilung zu beschleunigen, sollten Sie den Geist, seine Gedanken und Emotionen weise leiten, um auf eine Weise zu funktionieren, die mit dem Heilungsprozess übereinstimmt, den Sie erleichtern möchten. Mit anderen Worten, seien Sie die Änderung, die Sie erstellen möchten.
Salam bagi pembaca sekalian.
Welche Nummer haben Sie?
Ich habe die Nummer eins, fünf, drei, zwei
atau:
Ich habe die Nummer
eintausendfünfhundertzweiunddreißig.
Kalian bisa membaca angka/nomor dengan berbagai cara. Bisa dengan menamai digit satu per satu atau membaca nomor secara keseluruhan. Semakin panjang angkanya, semakin mudah untuk memberi nama masing-masing digit. Untuk nomor telepon dan nomor rekening bank, nomor tersebut dipanggil secara satu per satu atau berpasangan.
Wie ist deine Telefonnummer? – Meine Telefonnummer ist 257764.
Meine Telefonnummer ist zwei, fünf, sieben, sieben, sechs, vier.
Atau:
Meine Telefonnummer ist fünfundzwanzig, siebenundsiebzig, vierundsechzig.
W-Fragen adalah kata-kata tanya yang berawalan "W". Kalimat tanya yang memakai kata tanya ini tidak dijawab dengan "Ya atau Tidak". Jawaban untuk pertanyaan demikian adalah struktur kalimat itu sendiri, sebab yang ditanyakan adalah bagian yang membangun kalimat itu sendiri.
Masih bingung maksudnya? Mari kita masuk lebih dalam ke materi ini! Apa saja W-Fragen itu?
Pada umumnya terdapat 6 kata tanya W-Fragen, antara lain:
1. Was? (Apa?)
2. Wer? (Siapa?)
3. Wo? (Dimana?)
4. Wie? (Berapa/Bagaimana?)
5. Wann? (Kapan?)
6. Warum? (Mengapa?)
Tapi, beberapa di antara W-Fragen tersebut ada juga yang memiliki bentuk lain karena alasan tertentu, seperti pengaruh kasus, dan komposita dengan preposisi, dan ada juga kata tanya tambahan demonstrativ. Kita akan menelusuri apa saja yang tergolong ke pembagian tersebut.
Mari kita mulai dari yang pengaruhnya berasal dari kasus!
Yang pertama,
Kasus Nominativ:
Was, dan Wer.
Untuk lebih memahami maksudnya, bayangkan Was sama dengan artikel Das. Sedangkan Wer diwakilkan oleh Der.
Ini berarti, kata tanya tersebut digunakan untuk menanyakan subjek, yang terkena kasus Nominativ.
Misalnya,
Was ist das? (Apa itu?)
Dalam hal ini Was adalah perwakilan dari subjek, yang masih menjadi misteri, sehingga merupakan pokok pertanyaannya.
Maka jawabannya harus merupakan sesuatu yang menggantikan posisi Was, misalnya: Das ist ein Buch. (Itu adalah sebuah buku.)
Atau Ein Buch ist das. (Itu adalah sebuah buku.) Bentuk kalimat seperti ini jarang dipakai. Orang lebih sering memakai kata "Das" terlebih dulu. Sebagai informasi, Was biasanya dipakai untuk kata benda dengan jenis Neutral. Jadi ingat saja "das".
Selanjutnya,
Wer ist unser Lehrer? (Siapa guru kita?)
Sama seperti Was, wer adalah kata tanya yang menanyakan subjek orang. Maka jawabannya harus merupakan orang, misalnya: Unser Lehrer ist Herr Müller. (Guru kita adalah Pak Müller.)
Atau Herr Müller ist unser Lehrer. (Pak Müller adalah guru kita.) Tapi ini bukan berarti jawabannya harus nama orang, ya. Melainkan apapun yang merujuk pada subjek orang. Misalnya:
Wer kocht den Reis? (Siapa yang memasak nasi itu?) Contoh jawabannya misalnya: Meine Mutter kocht den Reis atau Den Reis kocht meine Mutter. Yang artinya Ibu saya memasak nasi itu.
Kini kita beralih ke W-Fragen yang menanyakan objek Akkusativ.
Nah, jika tadi saya katakan, Was diwakilkan oleh das, dan wer diwakilkan oleh der, maka pembentukan Akkusativnya juga mengikuti bentuk artikel yang mewakili W-Frage tersebut. Misalnya Akkusativ dari Was/das tetap Was/das. Akkusativ wer/der adalah wen/den. Paham, ya..
Sekarang kita gunakan dalam kalimat.
Was sucht er? (Apa yang dia cari?)
Dalam kalimat tanya tersebut, Was mewakilkan objek Akkusativnya, sedangkan Er merupakan subjeknya, dan sucht merupakan kata kerja yang sudah dikonjugasikan oleh subjek "er".
Nah, jika demikian, kita butuh objek Akkusativ untuk menggantikan "Was" sebagaimana telah menjadi pokok pertanyaan. Misalnya: Er sucht seine Schuhe. Atau Seine Schuhe sucht er. (Dia mencari sepatunya).
Selanjutnya Akkusativ dari Wer, yaitu Wen. Contoh kalimat pertanyaannya adalah:
Wen siehst du? (Siapa yang kamu lihat?).
Dalam hal ini, Wen akan digantikan dengan objek Akkusativ orang sebagai jawabannya. Misalnya: Ich sehe meinen Bruder. Atau Meinen Bruder sehe ich. (Saya melihat saudara laki-laki saya).
Selanjutnya kita beralih ke pengaruh kasus Dativ. Dativ daripada Was/das, dan wer/der seharusnya adalah wem/dem menurut aturan perubahan dativ untuk das, dan der adalah sama, yaitu dem. Akan tetapi Wem hanya dipakai untuk orang, yang berarti hanya digunakan sebagai bentuk Dativ dari Wer. Untuk Was untuk menanyakan bentuk Dativnya tetap Was dengan catatan, bahwa penggunaanya hanya untuk pernyataan "Umgangspraclich".
Misalnya: Was stimmst du nicht zu? (Apa yang kamu tidak setuju?)
Seperti kita ketahui, bahwa pada kata kerja zustimmen, objeknya selalu berbentuk Dativ.
Sehingga, kita dapat menjawabnya dengan objek dativ, misalnya:
Ich stimme der Meinung nicht zu. Atau Der Meinung stimme ich nicht zu. (Saya tidak setuju dengan pendapat itu). Karena penggunaan Was sebagai dativ merupakan bentuk "umgangsprachlich", maka agar menjadi kalimat yang resmi, kita bisa ganti bentuk pertanyaannya tanpa mengubah makna pertanyaan itu sendiri, misalnya dengan menggunakan kata tanya Welche. Kata tanya ini juga dipengaruhi kasus yang dipakaikan kepadanya. Hal ini juga akan dibahas secara terpisah selanjutnya. Seperti apa penggunaannya untuk menggantikan kalimat sebelumnya? Kita dapat mengatakan:
Welchem Ding stimmst du nicht zu? (Hal yang mana yang tidak kamu setuju?)
Dan jawabannya tetap seperti jawaban sebelumnya.
Sedangkan untuk Wem, kita bisa menanyakan hal seperti berikut:
Wem hilft er? (Siapa yang dia tolong?)
Sama seperti kata kerja "zustimmen", kata kerja "helfen" juga selalu ditambahkan dengan objek Dativ. Sehingga kita bisa menjawabnya seperti ini:
Er hilft seiner Mutter. Atau Seiner Mutter hilft er. (Dia menolong ibunya).
Nah. Bentuk tadi merupakan bentuk dativ pengaruh kata kerja, yaitu "helfen". Kata tanya ini juga berlaku bagi semua yang mengandung kasus dativ, seperti adanya dua objek dalam satu kalimat, yaitu Objek Akkusativ, dan Objek Dativ, atau hanya salah satunya. Misalnya:
Wem gibt er ein Buch? (Siapa yang dia berikan sebuah buku?)
Kita bisa jawab dengan contoh berikut:
Er gibt dem Kind ein Eis. Atau Dem Kind gibt er ein Buch. Atau Ein Buch gibt er dem Kind. (Dia memberikan anak itu sebuah buku).
Jika kamu masih bingung tentang susunan kata dalam kalimat yang terkadang berubah posisi, silahkan klik info di atas. Di sana saya telah pernah mengulasnya.
Sekarang kita lanjut ke pengaruh kasus Genitiv.
Kasus Genitiv itu sendiri menyatakan kepemilikan.
Nah. Dalam hal ini, baik untuk Was atau Wer, bentuk Genitivnya sama, sebagaimana das atau der genitivnya sama, yaitu des. Nah untuk was atau wem, bentuk genitivnya adalah Wessen. Hanya saja kita perlu ketahui, bahwa jika kita menanyakan kepemilikan sebuah benda, itu berarti jawabannya adalah benda. Jika yang dimaksud adalah kepemilikan orang, maka, jawabannya adalah orang.
Masih belum paham?
Mari ikuti penggunaannya, ya.
Contoh yang menanyakan pemilik benda:
Wessen Seite ist das? (Halaman daripada apa itu?)
Nah, Wessen dalam hal ini adalah menanyakan pemilik dari Seite. Maka kita dapat menjawabnya dengan:
Das ist die Seite des Buches. (Itu adalah halaman daripada buku itu).
Mengenai penambahan es pada kata Buch, dapat kamu dalami pada info di atas.
Sekarang kita beralih ke penggunaan wessen sebagai bentuk pertanyaan untuk orangnya, misalnya:
Wessen Tasche ist das? (Tas siapa itu?)
Kita dapat menjawab dengan mengganti wessen dengan pemiliknya, seperti:
Das ist die Tasche seiner Schwester. (Itu tas saudara perempuannya).
Atau bisa juga dengan:
Das ist die Tasche von ihr. Atau Das ist ihre Tasche. (Itu adalah Tasnya).
Bentuk lain juga bisa, misalnya:
Das ist die Tasche von Paula. Atau Das ist Paulas Tasche. (Itu adalah tas Paula)
Mengenai materi bentuk Genitiv ini bisa kamu dalami dengan klik info di atas.
| Nominativ+Genitiv | Prädikat | Dativ+Genitiv | Akkusativ |
| Die Frau des Lehrers Isteri daripada guru tersebut | gibt memberi-kan | der Tochter des Schulleiters putri daripada kepala sekolah tetsebut | den Hut. topi itu. |
| Kasus Frage Kasus | Wer? oder Was? Nominativ (1. Kasus) | Wessen? Genitiv (2. Kasus) | Wem? Dativ (3. Kasus) | Wen? oder Was? Akkusativ (4. Kasus) |
| Maskulin (männlich) | der Vater ein Vater | des Vaters eines Vaters | dem Vater einem Vater | den Vater einen Vater |
| Feminin (weiblich) | die Mutter eine Mutter | der Mutter einer Mutter | der Mutter einer Mutter | die Mutter eine Mutter |
| Neutral (sächlich) | das Kind ein Kind | des Kindes eines Kindes | dem Kind einem Kind | das Kind ein Kind |
| Plural (mehrzahl) | die Männer - | der Männer - | den Männern - | die Männer - |
| | Bestimmter Artikel | Unbestimmter Artikel | Possessivartikel (ihr..) | Kein Artikel |
| Maskulin (männlich) | der liebe Vater | ein lieber Vater | ihr lieber Vater | lieber Vater |
| Feminin (weiblich) | die liebe Mutter | eine liebe Mutter | ihre liebe Mutter | liebe Mutter |
| Neutral (sächlich) | das liebe Kind | ein liebes Kind | ihr liebes Kind | liebes Kind |
| Plural (mehrzahl) | die lieben Männer - | keine lieben Männer | ihre liebe Männer | liebe Männer |
| | Personalpronomen | Possessivpronomen (Begleiter) | Possessivpronomen (Ersatz) | |||
| maskulin, neutral | feminin, plural | maskulin | neutral | feminin, plural | ||
| Ich | Mein | Meine | Meiner | Meins | Meine |
| Du | Dein | Deine | Deiner | Deins | Deine |
| Er | Sein | Seine | Seiner | Seins | Seine |
| 3. Person Singular (f) | Sie | Ihr | Ihre | Ihrer | Ihr(e)s | Ihre |
| 3. Person Singular (n) | Es | Sein | Seine | Seiner | Seins | Seine |
| Wir | Unser | Unsere | Uns(e)rer | Unseres | Unsere |
| Ihr | Euer | Eure | Eu(e)rer | Eures | Eure |
2. Person Singular (formal) | Sie, Sie | Ihr | Ihre | Ihrer | Ihr(e)s | |
| | Bestimmter Artikel | Unbestimmter Artikel | Possessivartikel (ihr..) | Kein Artikel |
| Maskulin (männlich) | des lieben Vaters | eines lieben Vaters | ihres lieben Vaters | lieben Vaters |
| Feminin (weiblich) | der lieben Mutter | einer lieben Mutter | ihrer lieben Mutter | lieber Mutter |
| Neutral (sächlich) | des lieben Kindes | eines lieben Kindes | ihres lieben Kindes | lieben Kindes |
| Plural (mehrzahl) | der lieben Männer - | keiner lieben Männer | ihrer lieben Männer | lieber Männer |
| | Personalpronomen | Possessivpronomen (Begleiter, Ersatz) | | |
| maskulin, neutral | feminin, plural | |||
| Meiner | Meines | Meiner | |
| Deiner | Deines | Deiner | |
| Seiner | Seines | Seiner | |
| 3. Person Singular (f) | Ihrer | Ihres | Ihrer | |
| 3. Person Singular (n) | Seiner | Seines | Seiner | |
| Unser | Unseres | Unserer | |
| Euer | Eures | Eurer | |
2. Person Singular (formal) | Ihrer, Ihrer | Ihres | Ihrer | |
| | Bestimmter Artikel | Unbestimmter Artikel | Possessivartikel (ihr..) | Kein Artikel |
| Maskulin (männlich) | dem lieben Vater | einem lieben Vater | ihrem lieben Vater | liebem Vater |
| Feminin (weiblich) | der lieben Mutter | einer lieben Mutter | ihrer lieben Mutter | lieber Mutter |
| Neutral (sächlich) | dem lieben Kind | einem lieben Kind | ihrem lieben Kind | liebem Kind |
| Plural (mehrzahl) | den lieben Männern - | keinen lieben Männern | ihren lieben Männern | lieben Männern |
| | Personalpronomen | Possessivpronomen (Begleiter, Ersatz) | ||
| maskulin, neutral | feminin, | Plural | ||
| Mir | Meinem | Meiner | Meinen |
| Dir | Deinem | Deiner | Deinen |
| Ihm | Seinem | Seiner | Seinen |
| 3. Person Singular (f) | Ihr | Ihrem | Ihrer | Ihren |
| 3. Person Singular (n) | Ihm | Seinem | Seiner | Seinen |
| 1. Person Plural | Uns | Unserem | Unserer | Unseren |
| 2. Person Plural | Euch | Eurem | Eurer | Euren |
| 3. Person Plural, 2. Person Singular (formal) | Ihr, Ihr | Ihrem | Ihrer | Ihren |
| | Bestimmter Artikel | Unbestimmter Artikel | Possessivartikel (ihr..) | Kein Artikel |
| Maskulin (männlich) | den lieben Vater | einen lieben Vater | ihren lieben Vater | lieben Vater |
| Feminin (weiblich) | die liebe Mutter | eine liebe Mutter | ihre liebe Mutter | liebe Mutter |
| Neutral (sächlich) | das liebe Kind | ein liebes Kind | ihr liebes Kind | liebes Kind |
| Plural (mehrzahl) | die lieben Männer - | keine lieben Männer | ihre lieben Männer | liebe Männer |
| | Personalpronomen | Possessivpronomen (Begleiter, Ersatz) | ||
| maskulin, | neutral | feminin, plural | ||
| 1. Singular | Mich | Meinen | Mein | Meine |
| 2. Person Singular (informal) | Dich | Deinen | Dein | Deine |
| 3. Person singular (m) | Ihn | Seinen | Sein | Seine |
| 3. Person Singular (f) | Sie | Ihren | Ihr | Ihre |
| 3. Person Singular (n) | Es | Seinen | Sein | Seine |
| 1. Person Plural | Uns | Unseren | Unser | Unsere |
| 2. Person Plural | Euch | Euren | Euer | Eure |
| 3. Person Plural, 2. Person Singular (formal) | Sie, Sie | Ihren | Ihr | Ihre |
Apakah "lebah pembunuh" menyebar di Jerman? Dalam situasi apa pun Anda tidak boleh melakukan ini saat melakukan kontak
Diterjemahkan dari: merkur.de
Tawon Asia sekarang juga merasa betah di Jerman. Cari tahu mengapa ini terjadi dan bagaimana Anda harus bersikap di sini.
Italia, Prancis, dan sekarang juga Jerman: lebah Asia sekarang juga dapat ditemukan di Jerman.
Dia menyukai iklim hangat - seperti semua spesies lebah dan tawon. Suhu rata-rata juga meningkat di Jerman, yang membuat negara Eropa Tengah itu menarik bagi spesies serangga asal Asia.
Cari tahu di sini betapa berbahayanya lebah Asia sebenarnya.
Pernahkah Anda mendengar tentang "lebah pembunuh"? Tawon raksasa Asia dijuluki karena mereka membunuh lebah. Serangga, yang juga dikenal oleh ahli biologi sebagai Vespa mandarinia, saat ini menjadi berita utama di AS sebagai "pembunuh lebah madu" dan juga bisa berbahaya bagi penderita alergi. Lebah raksasa Asia tidak ditemukan di Jerman! Ini diperkenalkan ke Eropa dan sekarang terasa seperti di rumah sendiri di Spanyol, Italia, Belgia, Inggris Raya, Belanda dan Swiss - dan sekarang juga di Jerman.
Fakta bahwa serangga muncul di seluruh dunia terutama karena globalisasi *: Orang-orang terhubung ke seluruh dunia melalui lalu lintas dan perdagangan udara dan kapal. Hewan juga berpindah dari satu benua ke benua lain melalui rute ini - seringkali secara tidak sengaja. "Tawon Asia mungkin dibawa masuk dengan barang-barang impor Asia," kata pakar NABU, Melanie von Orlow. Selama perubahan iklim, musim dingin akan lebih sejuk, sehingga spesies eksotik pun dapat membentuk populasi yang stabil di Eropa. Penyebaran lebah Asia menunjukkan bahwa ia dapat mengatasi iklim Eropa dengan baik dan hanya mengalami sedikit tekanan dari predator atau pesaing, menurut Persatuan Konservasi Alam Jerman (NABU).
Baca juga: Wabah Tawon: Dengan trik ini Anda akhirnya bisa menyingkirkan para penyiksa.
Dalam video: AS mempersenjatai diri melawan lebah raksasa Asia
Tawon Asia tidak lebih agresif atau berbahaya daripada lebah Eropa
Tawon Asia tidak sendirian dalam hal ini: nyamuk macan Asia, yang dapat menularkan penyakit tropis, juga semakin sering terlihat di Jerman. “Ternyata nyamuk tersebut berasal dari Italia dan datang ke Jerman sebagai penumpang gelap dengan lalu lintas barang melalui Swiss atau Austria,” kata Profesor Egbert Tannich dari Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine (BNITM) kepada Bavarian Broadcasting Corporation. Lebah Asia, di sisi lain, biasanya tidak berbahaya bagi manusia. Makanan dan minuman, misalnya, tidak menarik serangga, itulah sebabnya manusia dan lebah Asia biasanya tidak saling menghalangi. Juga meyakinkan: lebah Asia tidak lebih agresif atau mengganggu daripada lebah Eropa.
“Hewan-hewan itu berperilaku damai dan defensif, tetapi bereaksi secara sensitif saat mendekati sarangnya di bawah dua meter. Sengatannya tidak lebih berbahaya dari pada spesies tawon asli ", kata von Orlov tentang serangga yang membangun sarangnya di puncak pohon jauh dari manusia, dan melanjutkan:" Vespa velutina tidak mungkin menjadi ancaman penting bagi peternakan lebah Eropa, tepatnya Efek terhadap flora dan fauna asli belum terlihat. ”Saat bersentuhan dengan lebah, penting untuk tetap tenang dan tidak menyerang secara liar. * Merkur.de adalah bagian dari jaringan editorial Ippen-Digital di seluruh Jerman.
Bagaimana Jika Sebuah Ide Begitu Berbahaya Itu Bisa Menuju Kerusakan Kekal Anda?
Pelajaran wacana dari Abad Pertengahan Tinggi
Kita terbiasa memikirkan "ide berbahaya" sebagai hal yang mungkin ingin ditekan oleh komunitas intelektual, atau pemerintah mungkin ingin menyensor, atau publikasi mungkin ingin mencabut platform (atau secara aktif platform, dalam hal ini), semuanya begitu bahwa masyarakat tetap aman dari efek gagasan yang konon merugikan.
Tetapi bagaimana jika kerugiannya bersifat spiritual? Dan bahaya yang ditimbulkannya tidak terbatas?
Bagaimana jika sebuah ide begitu berbahaya sehingga akan mengarah pada kutukan abadi bagi jiwa Anda?
Apa yang akan Anda lakukan dengan ide ini? Apakah Anda akan mengemasnya, membasmi, menghancurkan setiap penyebutan? Atau apakah Anda akan memperdebatkannya?
Ini adalah pertanyaan yang sangat nyata di Eropa pada Abad Pertengahan kira-kira berkisar dari 1050 hingga 1350. Eropa bahkan tidak dipahami sebagai Eropa, tetapi lebih sebagai Susunan Kristen, kumpulan orang dan bangsa yang mengakui ketuhanan Yesus Kristus melalui Gereja Katolik. Menolak ajaran dan praktik Gereja, baik melalui ketidakpercayaan atau bid'ah - yaitu, penyimpangan yang disengaja dari ajaran dan praktik Gereja - berarti menerima hukuman. Oleh karena itu, berbagai penjaga dari Gereja institusional berusaha untuk membatalkan bahkan saran dari ide-ide sesat. Memang, dalam imajinasi populer, Abad Pertengahan diterangi oleh pria dan wanita yang dibakar bahkan untuk memikirkan pemikiran sesat.
Dan lagi …
St. Thomas Aquinas (1225–1274) adalah intelektual terbesar pada Abad Pertengahan dan di zaman modern telah menjadi filsuf resmi Gereja Katolik sejak 1879 Aeterni Patris dari Paus Leo XII.
“Summa Theologiae” oleh Thomas Aquinas
Bagian 2 dalam seri Arc: Karya Terbesar Dalam Filsafat
Aquinas adalah anggota Ordo Para Pengkhotbah (biasanya dikenal sebagai Dominikan), para biarawan yang secara khusus dilatih untuk mengkhotbahkan ortodoksi Kristen dalam menghadapi bid'ah yang terus-menerus di wilayah Eropa di mana agama itu berkembang. Aquinas sendiri berdiri di ujung rangkaian panjang pemikir yang mempraktikkan dialektika, mencari kebenaran melalui ide-ide yang berlawanan.
Dia menulis Summa Theologia sebagai ringkasan dari ajaran Kristen, menyelaraskan akal manusia dan wahyu Kristen. Ketika kita membuka Summa, kita tidak terlalu jauh sebelum kita membaca yang berikut dari pena Malaikat Tabib,
Sepertinya Tuhan tidak ada; karena jika salah satu dari dua pertentangan menjadi tidak terbatas, yang lainnya akan hancur sama sekali. Tetapi kata “Tuhan” berarti bahwa Dia adalah kebaikan yang tidak terbatas. Oleh karena itu, jika Tuhan ada, tidak akan ada kejahatan yang dapat ditemukan; tapi ada kejahatan di dunia. Oleh karena itu Tuhan tidak ada.
Ini bukan Ateisme, melainkan salah satu intelektual terbesar dari iman Kristen. Apa yang kita lihat disini? Summa, yang dengan cepat ditemukan oleh pembaca modern, bukanlah sekumpulan pernyataan otoritatif atau kesimpulan doktrinal yang mengikat; sebaliknya, ini disusun sebagai pertanyaan yang diperdebatkan. Aquinas biasanya akan membuka perkataan, "Sepertinya," dan kemudian menyajikan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Kristen, sebelum kemudian melanjutkan untuk menyangkal argumen ini dalam sebuah balasan.
Aquinas percaya dalam menemukan kebenaran melalui dialektika ide-ide yang bertentangan. Tetapi meskipun dia adalah eksponen paling terkenal dari pendekatan ini dari zamannya, dia sebenarnya mengikuti leluhurnya yang telah mengadopsi praktik ini dalam studi mereka sendiri tentang teologi dan hukum Gereja. Buku teks hukum kanon abad pertengahan (yaitu, hukum Gereja) yang ditulis pada pertengahan abad ke-12, Dekretum Gratianus, lebih tepat diberi judul The Concordance of Discordant Canons dan merupakan upaya untuk menyelesaikan keputusan dewan gereja, jawaban atas banding kepausan , dan pernyataan otoritatif lainnya dari Gereja Katolik yang tampaknya bertentangan dengan diri mereka sendiri.
Maju cepat ke tahun 2010-an, ketika media arus utama menemukan apa yang sering disebut pembuatan bir alt-right di / pol / bagian dari papan gambar 4chan yang terkenal (serta lebih banyak subreddit yang menjijikkan). Puluhan tahun setelah rasisme secara teoritis telah dibuang dari ranah ide yang dapat diterima secara sosial… itu kembali.
Dengan demikian, opini kiri-tengah arus utama telah diambil alih oleh ketakutan akan ide-ide yang berbahaya dalam konsekuensinya dan menular. Laki-laki kulit putih muda dianggap sangat rentan terhadap penularan memetik dari supremasi kulit putih dan anti-feminisme: artikel khawatir bahwa "siswa kami dulunya papan tulis kosong - tetapi sekarang mereka datang dengan agenda". Seorang ibu di Twitter menjelaskan bagaimana dia dengan hati-hati mengkurasi bacaan online putranya untuk memastikan bahwa dia tidak terkontaminasi intelektual.
Sebagian besar telah menjadi "kebisingan latar belakang" - sampai peristiwa seputar pembunuhan George Floyd dan pecahnya protes besar-besaran di seluruh AS dan bahkan dunia. Dengan latar belakang ini, The New York Times menerbitkan "op-ed"o Senator Tom Cotton yang menyerukan penggunaan kekerasan untuk menekan protes ini (atau untuk menekan penjarahan di sekitar protes ini, tergantung pada pembacaan "op-ed"). Ruang redaksi meletus menjadi kontroversi mengenai apakah penerbitan opini semacam itu tidak bertanggung jawab dan berbahaya.
Apakah ada ide yang terlalu berbahaya?
Seorang pelajar abad pertengahan akan menganggap bidah berbahaya bagi tubuh dan jiwa. Seorang liberal modern percaya bahwa supremasi kulit putih benar-benar beracun bagi berfungsinya masyarakat multi-ras. Analogi antara keduanya tampak kuat. Tetapi menilai suatu ide berbahaya hanyalah sebagian darinya - pertanyaan sebenarnya adalah apa yang kemudian harus kita lakukan dengan ide-ide itu.
Apakah Kekristenan Injili Memiliki Kesinambungan dengan Agama Katolik Abad Pertengahan?
Haruskah kita, seperti yang disarankan oleh berbagai tokoh yang terkait dengan Web Gelap Intelektual, mengungkap ide-ide beracun melalui debat. Apakah ini cara untuk pergi?
Memang menggoda, namun pengalaman menyedihkan menunjukkan bahwa forum di mana “semua orang diterima, bahkan rasis” dengan cepat menjadi forum bagi rasis. Dapat diperdebatkan dengan tingkat keadilan tertentu bahwa pendukung supremasi kulit putih bergerak di bawah kamuflase kebebasan berbicara, dan bahwa konsekuensi historis yang diketahui dari supremasi kulit putih terlalu aneh untuk memungkinkannya mendapat tempat dalam masyarakat yang sopan. Seseorang seharusnya tidak lagi mengizinkan diskusi tentang hierarki rasial dalam masyarakat yang sopan daripada membiarkan diskusi tentang manfaat pedofilia.
Bagaimana seseorang menangani ide yang isinya berbahaya bagi masyarakat yang berfungsi, adil, dan multiras? Mungkin jawabannya terletak pada pertikaian abad pertengahan.
Para biarawan Dominika diperingatkan untuk tidak mendebatkan bidah di depan umum. Bagaimanapun, tempat seperti itu memungkinkan bidah menyebar. Tetapi ketika mereka mempelajari doktrin Kristen, mereka melakukannya dalam konteks sekolah di mana ortodoksi Kristen (yaitu, pengajaran yang benar) diasumsikan.
Dengan latar belakang seperti itu, seorang frater berlatih dalam menentukan suatu pertanyaan, mengambil posisi dalam debat, dan kemudian mempertahankannya. Memang, siswa akan diminta untuk memperdebatkan kedua sisi pertanyaan, bukan karena pengertian nihilistik bahwa tidak ada yang benar-benar dapat mengetahui kebenaran, tetapi karena keinginan untuk mengajar para pengkhotbah ortodoksi untuk memahami dengan tepat apa yang dipikirkan oleh bidat dan orang yang tidak beriman. Karena ajaran bidat mengancam jiwa, penting untuk memahami ajaran ini, tidak peduli betapa berbahayanya ajaran itu. Untuk mengkhotbahkan ortodoksi, seseorang perlu mengetahui apa yang menjadi keberatan para bidat terhadap ajaran ortodoks.
Apa artinya ini bagi masyarakat multi-ras? Mungkin mendeklarasikan sebuah ide yang tidak dapat diterima secara sosial itu perlu tetapi tidak cukup. Mungkin dalam batas-batas lingkungan di mana sebuah ide diketahui berbahaya, mereka yang berusaha mencari kebenaran mungkin melakukannya melalui kesalahan. Ini akan sulit, karena akan menuntut orang untuk menggali sekumpulan fakta dan asumsi alternatif, untuk memisahkannya, dan menemukan bukan hanya bahwa mereka salah, tetapi mengapa mereka salah. Apakah ini solusinya? Mungkin.
Tapi kemudian, para biarawan Dominika tidak pernah bisa membasmi bidah di Prancis selatan dengan berkhotbah. Hanya setelah puluhan tahun kekerasan berkelanjutan terhadap bidah dan mereka yang melindungi mereka, ide-ide mematikan itu hancur. Mungkin pelajarannya adalah bahwa ide-ide buruk hanya bisa dihadapi dengan kekuatan yang luar biasa.
Saya telah mengajukan pertanyaan ini, tetapi saya belum, dalam bahasa pengantar sekolah abad pertengahan, menyampaikan tekad itu.

Comments
Post a Comment