Posts

Showing posts with the label Teks

Herzlich Wilkommen

Image
PENDAFTARAN KELAS GRATIS DEUTSCHE FREUNDE "TELAH DITUTUP" Pendaftaran ditutup karena telah memenuhi kuota peserta. Terima kasih! ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Kelas gratis Deutsche Freunde adalah kelas belajar yang diselenggarakan secara gratis oleh tiga orang mentor kelas, yaitu Linggom Marpaung, Dandi Manurung, dan Tiarma Siallagan. Kelas ini diperuntukkan bagi pembelajar bahasa Jerman pada tingkat pemula sampai tingkat A2. Kelas akan dibagi tiga dengan masing-masing satu mentor. Kelas ini diadakan selama 2 minggu, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu, dimana per pertemuan dilaksanakan selama 2 jam.  Pendaftaran dibuka pada tanggal 08 Oktober 2020 sampai 10 Oktober 2020. Apa yang didapatkan lewat kelas Deutsche Freunde? Peserta ak...

Membuat kalimat Instruksi dalam bahasa Jerman

Instruksi Terdapat beberapa cara untuk mengungkapkan instruksi.  Bentuk umum adalah imperatif.  Imperatif formal  Saat berbicara dengan seseorang dengan Anda, perintah formal digunakan.  Imperatif formal dibentuk dengan meletakkan kata kerja terkonjugasi terlebih dahulu sebelum kata ganti orang.  Schneiden Sie den Käse in Würfel. Potong[kan Anda lah] keju itu menjadi kubus. Legen Sie den Käse auf die Pizza.  Taruh[kan Anda lah] keju itu ke atas pizza. Schieben Sie die Pizza in den Ofen. Masuk[kan Anda lah] pizza itu ke dalam oven.  Infinitif Dalam instruksi tertulis, mis.  Misalnya, dalam resep atau petunjuk penggunaan, infinitif terkadang digunakan.  Kemudian Anda meninggalkan topik itu.  Kata kerjanya adalah infinitif di akhir kalimat. Den Käse in Würfel schneiden. Memotong keju menjadi kubus. Den Käse auf die Pizza legen. Menaruh keju di atas pizza. Die Pizza in den Ofen schieben. Masukkan pizza ke dalam oven. Istilah tata bahasa dala...

KEHILANGAN PERMATA PEDALAMAN

  (Oleh Astina Hotnauli Marpaung)       “Mereka bangga pada rekening siluman. Dasar koruptor bajingan!” “Apa yang membuatmu marah?”, wanita berkacamata itu menghimpun keberanian, bertanya penuh hati-hati. “Mereka menjijikkan, menutup nurani   dari jutaan anak di pelosok negeri   yang menjerit, tangan yang menengadah, bibir yang bergeming, hati yang tercabik dan tertindas oleh kebodohan”. Sukma menyandarkan kepalanya pada pohon, perlahan menutup mata, lalu menggali semua amarah di kepala. “Lalu?” “Lalu mereka dengan lantang berbicara di layar kaca, dengan atau tanpa media mengabarkan, bahwa mereka mengupayakan pemerataan pendidikan, kesejahteraan guru dan berlaksa program yang terlihat menjanjikan. Faktanya, mereka tidak pernah memakai anggaran untuk turun ke lapangan.” Wanita berkacamata itu menepuk lembut bahu Sukma, “Kamu bekerja di sekitar mereka?” “Benar. Mataku melihat gedung mewah bediri tanpa seorang guru yang bisa hadir setiap hari. Teling...